Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM

Cacar Monyet: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: DEC 7, 2019 Waktu baca: 7 menit
Telah dibaca 840.599 orang

Anda mungkin sudah mengenal istilah cacar air, cacar api, hingga cacar ular (herpes zoster), baik dari gejala, pengobatan, hingga pencegahannya. Selain ketiga jenis cacar tadi, baru-baru ini dunia dikejutkan dengan munculnya jenis cacar yang cukup asing di telinga. Jenis cacar tersebut bernama cacar monyet alias monkeypox.

Pada awal Bulan Mei 2019, seorang warga Nigeria dinyatakan positif mengalami cacar monyet saat sedang berkunjung ke Singapura. Penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat mudah menular layaknya jenis cacar pada umumnya. Meskipun monkeypox jauh lebih ringan daripada cacar, tapi gejalanya bisa semakin parah dan berakibat fatal bagi manusia.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Rangkuman tentang cacar monyet

Jenis Penyakit menular
Gejala Demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung dan otot, hingga kelelahan
Penyebab Virus cacar monyet (monkeypox)
Penyebaran Menular melalui kontak langsung dengan primata (kera), atau hewan-hewan yang dicurigai terinfeksi virus cacar monyet, melalui kontak manusia melalui cairan tubuh atau darah
Pencegahan Vaksin cacar
Pengobatan Belum ada, tapi dokter dapat merekomendasikan antivirus Cidofovir
Frekuensi Langka

Apa itu cacar monyet?

Cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh orthopoxvirus. Cacar monyet termasuk virus zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Bisa juga ditularkan dari satu orang ke orang lain, namun risikonya cenderung rendah.

Melansir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), monkeypox merupakan sebuah endemik di desa-desa di wilayah Afrika Barat dan Afrika Tengah. Penyakit ini lebih banyak ditemukan di dekat hutan hujan tropis dimana sering terjadi kontak dengan hewan yang terinfeksi.

Mengenai cacar monyet

Penyebab cacar monyet

Virus cacar monyet sebagian besar ditularkan dari berbagai hewan liar, seperti tikus, kera, tupai, hingga hewan pengerat lainnya. Penyakit ini bisa ditularkan ke manusia melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, lesi atau mukosa hewan yang terinfeksi tetapi memiliki angka kematian yang jauh lebih sedikit daripada cacar.

Selain akibat kontak langsung, penyebab cacar monyet juga bisa berasal dari cara Anda mengolah makanan. Mengonsumsi daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak dengan benar dapat meningkatkan risiko infeksi monkeypox.

Apakah cacar monyet menular?

Penularan dari manusia ke manusia juga bisa terjadi, namun memang risikonya tidak sebesar penularan dari hewan terinfeksi. Penularan cacar monyet dari satu orang ke orang lain terjadi terutama melalui percikan air liur berisi virus.

Sekali terpapar mungkin tidak langsung membuat Anda jatuh sakit, sebab biasanya dibutuhkan kontak tatap muka dalam waktu lama, misalnya satu rumah dengan orang yang terinfeksi.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Selain itu, penularan monkeypox juga bisa melalui sentuhan langsung dengan lesi kulit orang yang terinfeksi. Bayi dalam kandungan juga memungkinkan tertular cacar monyet melalui plasenta (monkeypox bawaan).

Gejala cacar monyet

Gejala cacar monyet sebetulnya sama seperti jenis cacar lainnya dan tidak langsung bermunculan. Masa inkubasi virus cacar monyet sekitar 5-7 hari, setelah itu barulah terlihat gejala cacar monyet pada tubuh.

Munculnya gejala cacar monyet terbagi menjadi 2 periode, yaitu:

  • Periode invasi (0-5 hari): ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung dan otot, hingga kelelahan.
  • Periode erupsi kulit (1-3 hari setelah demam): ditandai dengan munculnya ruam di wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ruam cacar monyet paling sering muncul di wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. 

Ukuran bentol cacar monyet cenderung lebih besar daripada cacar pada umumnya. Gejala cacar monyet biasanya membutuhkan waktu sekitar 14-21 hari sampai ruamnya hilang. 

Yang paling dikhawatirkan dari cacar monyet adalah munculnya gejala radang pernapasan. Bila Anda mengalaminya, segera konsultasikan ke dokter sebab bila dibiarkan terlalu lama bisa membahayakan nyawa penderitanya.

Baca Selengkapnya: Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Cacar Monyet (Monkeypox)

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Pencegahan cacar monyet

Faktor risiko paling signifikan terhadap penularan cacar monyet adalah adanya kontak fisik antara manusia dengan hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mencegah penularannya adalah dengan menghindari kontak fisik dengan hewan terjangkit.

Berbagai cara mencegah cacar monyet adalah:

  • Hindari kontak langsung dengan tikus, primata (kera), atau hewan-hewan yang dicurigai terinfeksi virus cacar monyet.
  • Masak daging hingga benar-benar matang.
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan apa pun. Begitu juga setelah Anda mengunjungi orang sakit.
  • Gunakan sarung tangan dan pelindung lengkap saat menangani orang maupun hewan yang terluka atau sakit.
  • Dapatkan imunisasi cacar sesuai jadwal.

Sebaiknya hindari juga bepergian ke daerah atau negara yang terdapat wabah monkeypox untuk sementara waktu. Hal ini dilakukan supaya Anda terhindar dari infeksi cacar monyet dan mencegah penyebarannya.

Pengobatan cacar monyet

Setiap orang yang dicurigai mengalami gejala cacar monyet perlu segera ke dokter. Dokter mungkin akan merekomendasikan tes darah untuk memastikan ada atau tidaknya virus monkeypox dalam tubuh.

Berbicara soal obat cacar monyet, sayangnya sampai saat ini belum ada perawatan atau vaksin khusus untuk mengatasi infeksi virus cacar monyet. Dokter mungkin akan memberikan obat antivirus Cidofovir untuk pasien dengan gejala cacar monyet yang mengancam jiwa.

Wabah ini juga masih bisa dikendalikan dengan vaksin cacar umum. Melansir dari lama WHO, vaksin cacar terbukti 85% efektif mencegah infeksi monkeypox. Seiring dengan meningkatkan sistem imun tubuh, gejala cacar monyet akan berkurang sedikit demi sedikit hingga pulih seutuhnya.

Apa bedanya cacar monyet dengan cacar air?

Jika penyakit cacar monyet disebabkan oleh virus Monkeypox, penyakit cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoozter yang biasanya ditularkan melalui pernapasan dan kontak langsung dengan lesi orang terinfeksi. Bagi penderita cacar monyet yang masih ringan umumnya dapat sembuh dalam waktu 2-3 minggu. Sementara cacar air akan sembuh hanya dalam waktu 1-2 minggu.

Untuk mencegah penyakit cacar monyet, Anda dapat menghindari kontak kulit secara langsung dengan orang atau hewan serta tidak mengonsumsi daging satwa liar yang tidak dimasak dengan benar. Sementara itu, untuk mencegah terjadinya cacar air, Anda dapat melakukan vaksinasi cacar air (Varicella).

Baca juga: Perbedaan cacar monyet dengan cacar air

Informasi penting tentang cacar monyet

  • Cacar monyet atau monkeypox adalah penyakit dari virus yang menghasilkan lesi mirip cacar di kulit. Ini terkait erat dengan cacar pada umumnya tetapi tidak hampir sama mematikannya dengan cacar.
  • Sejarah cacar monyet masih termasuk baru (tahun 1958), dan tenaga profesional medis mendiagnosis kasus cacar monyet pada manusia pertama kalinya pada awal 1970-an.
  • Sebagian besar kasus ditularkan dari hewan (seperti tikus, monyet, tupai) ke manusia melalui kontak langsung.
  • Cacar monyet dapat menular dari orang ke orang, bisa terjadi (walau jarang) melalui kontak langsung melalui cairan tubuh atau darah.
  • Faktor risiko untuk cacar monyet termasuk hubungan dekat dengan hewan Afrika (biasanya tikus) yang membawa penyakit tersebut atau merawat pasien yang memiliki cacar monyet.
  • Selama beberapa hari pertama, gejalanya tidak spesifik dan termasuk demam, mual, sakit kepala, dan nyeri punggung. Setelah sekitar empat hingga tujuh hari, lesi (pustula berisi cairan) terbentuk pada wajah dan tubuh yang mengalami ulserasi, mengeras, lalu mulai hilang setelah sekitar 14-21 hari, dan kelenjar getah bening menjadi besar.
  • Diagnosis cacar monyet sering dibuat secara berkala di Afrika dari riwayat medis dari pasien. Diagnosis ini sangat penting dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan agen infeksi lain seperti cacar.
  • Pengobatan dapat terdiri dari vaksinasi langsung dengan vaksin cacar (karena cacar monyet sangat erat hubungannya dengan cacar pada umumnya). Pengobatan dengan obat antivirus atau globulin imun manusia juga dapat dilakukan.
  • Cacar monyet dapat dicegah selama Anda menghindari kontak langsung dengan hewan dan manusia yang terinfeksi virus tersebut. Vaksinasi terhadap cacar juga dapat memberikan peluang 85% untuk menghindari infeksi
  • Belum ada obat atau vaksin yang dikhususkan untuk penyakit cacar monyet.
  • Penelitian sedang berlangsung untuk mempelajari antivirus, genetika, dan tes yang cepat untuk mengatasi monkeypox.

Sejarah dan awal penyebaran penyakit cacar monyet (monkeypox)

Cara monyet atau monkeypox sebenarnya memiliki sejarah yang tergolong masih baru. Pada tahun 1958, penyakit ini baru pertama kali ditemukan pada monyet, walaupun pada tahun 1860-an penyakit ini sudah dijelaskan sebagai "penyakit vesikular pada monyet".

Penyakit ini, dan akhirnya virus yang menyebabkannya, dinamai monkeypox karena lesi (cacar) yang terlihat pada monyet berkembang seperti penyakit pembentuk cacar lain yang sudah dikenal (pustula yang akhirnya pecah, ulserasi, kerak di atas, dan beberapa bekas luka cacar di kulit).

Studi kemudian menunjukkan bahwa virus "monkeypox" sebenarnya bertahan secara endemis pada tikus Afrika. dan tidak sampai tahun 1970 di Afrika ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun adalah orang pertama yang akhirnya bisa didiagnosis dengan cacar monyet.

Monkeypox sekarang menjadi orthopoxvirus utama (juga disebut sebagai orthopox) yang dapat menginfeksi manusia, dan untungnya penyakit ini tidak sering ditemukan. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, karena beberapa wabah cacar monyet sudah ada sejak tahun 1970-an. Meskipun sebagian besar didapati di wilayah Afrika (terutama Afrika barat dan tengah), tetapi beberapa kasus juga ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 2003. 

Pada bulan September 2018, Dr. Beadsworth dari Inggris melaporkan telah merawat tiga orang (yang sebelumnya telah mengunjungi Nigeria) dengan penyakit cacar monyet. Sejak 2017, Nigeria telah mewabah dengan 89 orang yang terinfeksi dan enam angka kematian; dan dari tiga pasien tersebut kemungkinan terkena virus saat mengunjungi Nigeria.

Mencegah penyebaran cacar monyet melalui pembatasan perdagangan hewan

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membatasi atau melarang pergerakan mamalia kecil asal Afrika dan juga spesies kera bisa membantu mencegah secara efektif dalam memperlambat ekspansi virus di luar Afrika.

Hewan tawanan yang berpotensi terinfeksi cacar monyet harus langsung dikarantina dan diisolasi dari hewan-hewan lain. Hewan apa pun yang telah melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi juga harus dikarantina, ditangani dengan tindakan pencegahan standar, dan diamati untuk gejala cacar monyet selama 30 hari.


Referensi: 

WHO. (2019). Monkeypox – Singapore.
Medicinenet. Monkeypox Causes, Symptoms, Treatment and Prevention.
CDC. (2019). About Monkeypox.
MSDSOnline. (2010). Monkeypox virus.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (2015). Poxvirus. Monkeypox.

Drugs.com (2019). Monkeypox.

McCollum, A.M. & Damon, I.K. (2009). Human Monkeypox. Clinical Infectious Disease, 48(1), pp. e6-e8.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit