Sudden Cardiac Arrest - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Feb 10, 2019 Update terakhir: Nov 5, 2020 Tinjau pada Apr 19, 2019 Waktu baca: 3 menit

Henti Jantung Mendadak

Henti jantung mendadak merupakan hal yang jarang terjadi pada masyarakat, perbandingannya adalah 1 : 50.000 orang. Henti jantung mendadak adalah berhentinya detak jantung sehingga penderita sulit bernafas dan hilang kesadaran. Jika tidak segera ditangani, dapat membahayakan karena mengakibatkan kematian dalam hitungan menit. Kematian terjadi karena terhentinya aktivitas pemompaan darah di jantung dan aliran darah ke seluruh tubuh. Hal ini diakibatkan oleh gangguan aliran listrik pada jantung dan disebabkan karena aktivitas jantung bekerja terlalu keras.

Mengenai Henti Jantung Mendadak

Penyebab terjadinya Henti Jantung Mendadak

Ketidakteraturan ritme jantung merupakan penyebab utama terjadinya henti jantung mendadak. Hal ini disebut aritmia. Aritmia sendiri disebabkan oleh adanya gangguan pada sinus node jantung. Sinus node adalah bagian yang mengatur aliran listrik pada jantung dan membantu agar detak jantung dan proses pemompaan terkendali. Berdasarkan letaknya, Aritmia dibedakan menjadi aritmia ventrikel (serambi) dan aritmia atrium (bilik). Penyebab lainnya adalah:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Jantung via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 10
  • Penyakit jantung koroner, penyakit ini menghambat aliran darah menuju jantung. Akibatnya adalah terjadi kesulitan pada jantung mengalirkan listrik.
  • Lemah jantung, kelainan ini menyebabkan jantung tidak bekerja optimal memompa darah dari dan ke seluruh tubuh.
  • Sindrom long QT, kelainan ini mempengaruhi aliran listrik di jantung sehingga jantung berdetak secara tidak beraturan.
  • Kelainan sejak lahir misalnya sindrom Marfan. Kelainan ini merupakan penyakit turunan. Penderita memiliki jantung yang lemah dan tertekan.
  • Pola hidup yang buruk seperti malas berolahraga, obesitas, merokok, dsb.
  • Memiliki tekanan darah tinggi dan riwayat sakit jantung.
  • Defisiensi magnesium dan kalium.

Gejala Henti Jantung Mendadak

Meskipun penyakit ini tidak dapat terdeteksi kapan datangnya, namun kamu dapat mengenali secara dini dan menyelamatkan penderitanya. Gejala yang dialami oleh penderita adalah:

  • Tampak lemas dan kelelahan
  • Nafas pendek
  • Muntah
  • Nyeri dada akibat aritmia
  • Denyut nadi menghilang
  • Merasa sakit pada leher, bahu dan punggung
  • Pingsan.

Jika kamu menemui gejala ini pada seseorang, pertolongan pertama yang dapat kamu lakukan adalah CPR. Cara melakukan CPR adalah dengan menekan bagian dada dekat jantung dengan ritme teratur, cepat dan kuat.

Diagnosis Henti Jantung Mendadak

Pada tahap awal, dokter akan memberi kejut listrik menggunakan defibrilator untuk menormalisasi ritme jantung, dan memantau ritme tersebut menggunakan elektrokardiogram (EKG) yang dipasang di dada dan kaki.

Jika pasien selamat dari serangan, serangkaian tes penunjang akan dilakukan untuk memastikan faktor penyebab termasuk:

  • Tes darah. Bertujuan untuk melihat kadar kalium, magnesium, hormon, dan zat lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung.
  • X-ray. Bertujuan untuk memeriksa ukuran dan struktur jantung juga pembuluh darah.
  • Ekokardiogram
  • Nuclear scan. Bertujuan untuk mengidentifikasi aliran darah dalam jantung.
  • Tes elektrofisiologi dan pemeteaan. 
  • Angiogram. Bertujuan untuk menandai letak sumbatan dengan bantuan X-ray dan rekaman video.
  • Tes fraksi ejeksi. Salah satu dampak terbesaar henti jantung mendadak adalah ketidakmampuan jantung memompa darah sesuai dengan kapasitas normalnya. Fraksi ejeksi  bertujuan untuk menghitung persentase kemampuan jantung memompa darah (kadar normal 55 – 70%) dan melihat jika terjadi penurunan drastis. 

Pengobatan untuk Henti Jantung Mendadak

Tindakan darurat yang dapat kamu lakukan adalah CPR. Tindakan ini dilakukan hingga penderita sadar kembali. Jika penderita tidak kunjung sadar, dokter akan memberikan terapi kejut listrik dengan defibrilator. Kejut listrik membantu ritme jantung kembali normal. Batas waktu yang dibutuhkan untuk membuat ritme jantung kembali normal adalah 8 menit. Jika melebihi batas waktu tersebut, peluang terjadinya kerusakan otak semakin besar.

Perawatan pasca henti jantung mendadak ada bermacam-macam yaitu:

  • Obat-obatan
  • Pemasangan defibrilator/ ICD
  • Angioplasti koroner
  • Radiofrequency catheter ablation.
  • Operasi bypass
  • Corrective heart surgery
  • Pola hidup sehat
  • Obat-obatan diberikan bila penderita telah melewati masa kritis. Beberapa obat tersebut adalah obat anti aritmia, Beta antagonis dan penghambat enzim pengubah angiotensin.
  • Defibrilator adalah alat yang berfungsi untuk memantau ritme jantung dan mengejutkan penderita. Alat ini menggunakan baterai sebagai sumber listrik. Alat ini dipasang di dada bagian kiri dan dengan selang elektroda disambungkan ke jantung.
  • Ini adalah tindakan pembedahan pembuluh darah koroner sehingga aliran darah dari dan ke jantung lancar kembali. Tindakan ini dilakukan dengan cara memasukkan selang tipis dan lentik kau cari.
  • Tindakan ini memperkecil resiko Aritmia dengan menghambat jalur listrik pada jantung.
  • Tindakan ini dilakukan dengan membuat saluran baru pada pembuluh darah yang tersumbat.
  • Tindakan ini dilakukan pada penderita kelainan jantung bawaan. Dokter bedah akan memperbaiki kelainan jantung atau katup jantung agar aliran darah lancar dan ritme jantung kembali teratur.
  • Agar tidak terulang henti jantung mendadak, penderita sebaiknya menerapkan pola hidup sehat seperti rutin berolahraga, hindari makanan berlemak, stres, dsb.

12 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Uscher, J. WebMD (2016). Sudden Cardiac Arrest: Why It Happens. (https://www.webmd.com/heart-disease/heart-failure/features/sudden-cardiac-arrest-why)
Macon, et al. Healthline (2016). Cardiac Arrest. (https://www.healthline.com/health/cardiac-arrest)
Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Sudden Cardiac Arrest. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sudden-cardiac-arrest/symptoms-causes/syc-20350634)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app