6 Gejala Halusinasi yang Harus Diwaspadai - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Dipublish tanggal: Apr 4, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Agu 11, 2019 Waktu baca: 3 menit
6 Gejala Halusinasi yang Harus Diwaspadai - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Halusinasi adalah sensasi yang muncul secara nyata tetapi hanya dibuat oleh pikiran Anda. Halusinasi dapat mempengaruhi panca indra Anda. Contohnya, jika Anda mendengar suara padahal orang lain yang bersama Anda di tempat tersebut tidak mendengar atau melihat, maka itu tidak nyata. 

Gejala halusinasi mungkin dapat disebabkan oleh penyakit mental, efek samping konsumsi obat, atau penyakit fisik seperti epilesi atau kecanduan alkohol. Anda perlu memeriksakan diri ke psikiater, neurolgis, atau dokter umum tergantung dari penyebab halusinasi yang Anda alami. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Pengobatan yang diberikan ahli kesehatan dapat berupa obat untuk menyembuhkan penyakit mental atau fisik. Dokter juga akan merekomendasikan hidup sehat seperti meminum lebih sedikit alkohol dan tidur lebih banyak.

Macam-macam Halusinasi

Halusinasi dapat mempengaruhi pengelihatan Anda, kemampuan mencium, merasakan, mendengarkan atau sensari tubuh Anda.

1. Halusinasi visual

Halusinasi visual terjadi apabila Anda melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada di tempat Anda melihatnya. Halusinasi dapat berupa objek, pola visual, orang atau cahaya. 

Contohnya, Anda mungkin melihat seseorang yang sebenarnya tidak ada di situ, atau Anda melihat cahaya yang sangat menyilaukan yang orang lain tidak dapat lihat.

2. Halusinasi olfaktori

Halusinasi olfaktori melibatkan kemampuan Anda mencium. Anda mungkin mencium bau yang tidak sedap saat terbangun tengah malam atau merasa tubuh Anda bau padahal tidak. Tipe halusinasi ini juga bisa berupa bau yang harum seperti aroma bunga.

3. Halusinasi Gustatori

Halusinasi gustatori mirip dengan halusinasi olfaktori, tetapi halusinasi gustatori melibatkan indra perasa daripada bau. Indra perasa akan merasakan rasa yang aneh atau tidak enak. Halusinasi gustatori (biasanya merasakan rasa metalik) merupakan gejala yang umum pada penderita epilepsi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

4. Halusinasi auditori

Halusinasi auditori adalah salah satu tipe halusinasi yang umum. Anda mungkin mendengat seseorang berbicara pada Anda atau menyuruh Anda melakukan hal tertentu. Suara tersebut dapat terdengar marah, netral atau hangat. Beberapa contoh tipe halusinasi auditori adalah Anda mendengar suara seperti seseorang berjalan di loteng atau suara klik atau tap yang berulang-ulang.

5. Halusinasi taktil

Halusinasi taktil melibatkan indra peraba atau pergerakan tubuh Anda. Contohnya, Anda mungkin merasa ada serangga yang merayap di kulit Anda atau Anda merasa organ dalam Anda bergerak-gerak. Anda mungkin merasa ada tangan seseorang yang menyentuh Anda

6. Halusinasi sementara

Sesuai dengan namanya, halusinasi sementara tidak bersifat kronis. Contohnya, halusinasi sementara dapat terjadi pada orang yang putus cinta atau jika seseorang yang Anda kasihi meninggal. 

Anda mungkin mendengar suara orang tersebut untuk beberapa waktu atau melihat bayangan orang tersebut. Halusinasi tipe ini biasanya hilang seiring dengan hilangnya stressor dan bagaimana seseorang menganggapi stressor tersebut. Halusinasi sementara bisa hilang jika respon menghadapi stressor seseorang baik, namun halusinasi akan menetap dan menjadi penyakit mental bila stressor tidak dihadapi dengan baik.

Apa yang Menyebabkan Halusinasi?

1. Penyakit mental

Penyakit mental adalah penyebab halusinasi yang paling umum. Skizofrenia, kepikunan dan delirium adalah beberapa contoh penyakit mental yang menyebabkan halusinasi.

2. Penyalahgunaan obat

Penyalahgunaan obat adalah salah satu penyebab umum halusinasi. Beberapa orang melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ada setelah minum alkohol terlau banyak atau mengonsumsi narkotika seperti kokain. Narkotika seperti LSD dan PCP juga dapat menyebabkan halusinasi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

3. Kekurangan tidur

Kurang tidur dapat menyebabkan halusinasi. Anda akan rentan mengalami halusinasi juka Anda tidak tidur beberapa hari atau tidak tidur selama waktu yang lama.

4. Obat

Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati kondisi mental dan fisik mungkin menyebabkan halusinasi. Obat penyakit Parkinson, depresi, psikosis dan epilepsi dapat memicu gejala halusinasi.

Bagaimana Halusinasi Disembuhkan?

1. Obat

Obat untuk halusinasi tergantung dari kondisi Anda. Jika Anda berhalusinasi karena berhenti menggunakan alkohol, dokter akan meresepkan obat untuk memperlambat sistem saraf Anda. 

Tetapi, jika halusinasi disebabkan oleh penyakit Parkinson pada orang yang mengalami kepikunan, penggunaan obat untuk berhenti minum alkohol tidak diperlukan. Diagnosis yang akurat adalah kunci pengobatan secara efektif.

2. Konseling psikologi

Konseling merupakan bagian dari rencana pengobatan. Merupakan hal yang umumnya benar bahwa penyebab halusinasi Anda adalah kondisi kesehatan mental Anda. 

Berbicara dengan konselor dapat membuat Anda memahami apa yang terjadi pada Anda. Konselor dapat membantu Anda bagaimana untuk bertahan, terutama jika Anda merasa takut atau paranoid.

9 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Teeple RC, et al. (2009). Visual hallucinations: Differential diagnosis and treatment. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2660156/)
Hales RE, et al. (2014). The American psychiatric publishing textbook of psychiatry (6th ed.). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
Daroff RB, et al. (2016). Bradley’s neurology in clinical practice (7th ed.). New York, NY: Elsevier.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app