Kesehatan Fisik

Endoskopi, Cara Pemeriksaan dan Pembedahan Organ Tubuh

Dipublish tanggal: Agu 24, 2019 Update terakhir: Mar 23, 2020 Tinjau pada Mar 23, 2020 Waktu baca: 4 menit

Istilah endoskopi mungkin terdengar asing di telinga, namun prosedur ini sering digunakan di dalam dunia medis. Endoskopi sendiri merupakan sebuah prosedur pemeriksaan dengan tujuan untuk melihat kondisi oragn tubuh secara visual menggunakan alat khusus yang disebut endoskop. 

Tidak hanya berfungsi untuk memeriksa, prosedur ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari prosedur pembedahan untuk mengangkat jaringan tubuh atau pengambilan sampel jaringan (biopsi). Alat endoskop yang digunakan untuk prosedur ini merupakan alat yang memiliki bentuk seperti selang dan dilengkapi dengan kamera di bagian ujungnya agar dapat diintegrasikan ke monitor untuk menunjukkan gambar yang memperlihatkan kondisi bagian dalam tubuh.

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES CELERY 7000 via HonestDocs

Blackmores Celery dapat digunakan untuk kesehatan sendi dan meredakan sakit akibat arthirits, encok dan rematik. Dapatkan GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Blackmores celery 7000 120 1

Untuk memeriksa organ tubuh, endoskop dimasukkan melalui rongga tubuh, seperti mulut, hidung, anus, atau melalui irisan kulit (insisi) yang secara khusus dibuat untuk prosedur endoskopi. Prosedur endoskopi sendiri terbagi dalam beberapa bagian berdasarkan pada organ tubuh yang diamati, yakni:

  1. Artroskopi, prosedur untuk mengamati kondisi sendi bagian dalam
  2. Bronkoskopi, prosedur untuk mengamati kondisi bronkus atau saluran pernapasan yang menuju ke paru-paru
  3. Kolonoskopi, prosedur untuk mengamati kondisi usus besar
  4. Enteroskopi, prosedur untuk mengamati kondisi usus halus
  5. Gastroskopi, prosedur untuk mengamati kondisi kerongkongan (esofagus), lambung, dan usus 12 jari
  6. Histeroskopi, prosedur untuk mengamati kondisi rahim (uterus)
  7. Laparoskopi, prosedur untuk mengamati kondisi organ yang ada dalam rongga perut atau panggul
  8. Laringoskopi, prosedur untuk mengamati kondisi pita suara dan laring
  9. Mediastinoskopi, prosedur untuk mengamati kondisi organ tubuh dalam rongga
  10. Sistoskopi, prosedur untuk mengamati kondisi uretra (saluran kencing) dan kandung kemih
  11. Ureteroskopi, prosedur untuk mengamati kondisi ureter (saluran urine dari ginjal menuju kandung kemih)

Manfaat Endoskopi Sebagai Bagian Perawatan Medis

Endoskopi dianjurkan oleh dokter untuk melihat gejala yang muncul karena adanya kelainan pada organ tubuh. Kelainan yang terjadi bisa dalam bentuk infeksi, peradangan, ataupun adanya sel kanker. Selain itu, melalui prosedur endoskopi juga, dokter dapat dibantu untuk mengambil sampel jaringan (biopsi). Hal tersebut digunakan untuk menunjang hasil diagnosa dokter, terdapat beberapa gejala yang memerlukan endoskopi, seperti: 

  • Masalah pada saluran cerna, seperti BAB, muntah darah, diare, nyeri perut, kehilangan berat badan, disfagia, dan panas di ulu hati 
  • Batuk berdarah atau batuk kronis
  • Masalah pada saluran kemih, seperti buang air kecil berdarah atau mengompol
  • Masalah keguguran yang berulang atau pendarahan dari vagina

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, endoskopi juga dapat dilakukan sebagai prosedur pembedahan. Beberapa tindakan medis yang membutuhkan endoskopi, yakni: 

  • Memperbaiki kerusakan sendi
  • Melalui endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) untuk dilakukan pemasangan batu empedu atau pemasangan stent pada saluran empedu atau pankreas yang menyempit
  • Melalui prosedur ureteroskopi untuk dilakukan penghancuran terhadap batu saluran kemih dan pemsangan stent pada ureter
  • Mengangkat usus buntu yang mengalami peradangan
  • Mengangkat miom di rahim
  • Menyumbat pendarahan pada pasien yang mengalami tukak lambung 

Jika dibandingkan dengan pembedahan terbuka, maka risiko endoskopi masih lebih ringan. Beberapa risiko yang bisa terjadi pada prosedur ini antara lain perdarahan, infeksi, robeknya organ tubuh, demam, rasa nyeri yang tak kunjung reda pada area endoskopi, pembengkakan, dan kemerahan pada kulit yang disayat.

Persiapan Sebelum Endoskopi 

Sebelum menjalani endoskopi, pasien wajib mengikuti beberapa instruksi dokter. Akan tetapi persiapan yang dilakukan bergantung pada jenis endoskopi yang akan dijalani pasien. Beberapa persiapan sebelum prosedur dilakukan meliputi: 

  1. Pasien wajib berpuasa setidaknya 12 jam termasuk tidak boleh minum air putih
  2. Pasien wajib mengosongkan saluran pencernaan dengan obat pencahar atau pencuci perut dari dokter, terutama jika akan menjalani endoskopi saluran pencernaan, seperti kolonoskopi atau gastroskopi
  3. Pasien harus memberitahu kondisi medis dan riwayat kesehatan secara detail kepada dokter
  4. Pasien diminta untuk berhenti mengonsumsi obat antiinflamasi dan obat antikoagulan seperti warfarin agar tidak terjadi pendarahan terutama saat melakukan biopsi jaringan

Baca selengkapnya: Persiapan Sebelum Melakukan Prosedur Endoskopi

Prosedur Endoskopi

  1. Pasien akan diberikan obat bius (tergantung jenis endoskopi yang dijalani) untuk membuat area tubuh menjadi mati rasa saat menjalani endoskopi 
  2. Setelah daerah tindakan menjadi mati rasa, endoskop akan dimasukkan ke dalam tubuh secara hati-hati melalui rongga tubuh (tenggorokan, anus, atau uretra). Namun jenis endoskopi yang tidak dapat dilakukan melalui lubang, maka akan dibuat sayatan kecil pada kulit sebagai jalan masuk, seperti laparoskopi atau artroskopi
  3. Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga 3 jam untuk melakukan tindakan ini tergantung pada organ tubuh yang diperiksa
  4. Selesai menjalani endoskopi, pasien diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Hal ini biasanya tergantung pada jenis endoskopi yang dijalani karena bisa saja pasien diminta untuk rawat inap
  5. Pasien tidak diijinkan menyetir sendiri saat pulang ke rumah, maka keluarga atau rekan harus ada untuk menemani pasien
  6. Bagi pasien yang mendapatkan sayatan, dokter akan menjahit kembali sayatan tersebut dan menutupnya menggunakan perban steril agar tehindar dari infeksi

Khusus bagian saluran pencernaan, endoskopi dilakukan tidak menggunakan selang endoskop namun dengan menelan kapsul yang sudah dipasang kamera untuk melihat kondisi saluran pencernaan. Secara nirkabel, gambar yang ditangkap kamera langsung dipindahkan ke layar komputer untuk diamati. Meskipun risikonya lebih ringan daripada penggunaan selang namun kapsul bisa saja menyumbat saluran pencernaan jika terdapat penyempitan di dalamnya. 

Efek Setelah Menjalani Endoskopi 

Seteah menjalani prosedur endoskopi ini, pasien biasanya akan diminta untuk rehat selama beberapa jam agar efek sedatif dan anestesi menghilang. Jika sudah, pasien diperbolehkan pulang dengan pengawasan rekan atau keluarga.

Saat menjalani gastrokopi, pasien mungkin akan merasa sakit pada tenggorokan atau buang air besar berdarah setelah menjalani sistoskopi atau uteroskopi selama 24 jam. Oleh sebab itu, pasien sebaiknya mengonsumsi makanan yang lembut selama kerongkongan masih terasa nyeri. Jika setelah 24 jam darah pada urine masih muncul, segera beritahu dokter terkait untuk menangani masalah tersebut. 

22 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Early DS, et al. Guidelines for sedation and anesthesia in GI endoscopy. Gastrointestinal Endoscopy. 2018;87:327.
Cohen J, et al. Overview of upper gastrointestinal endoscopy (esophagogastroduodenoscopy). https://www.uptodate.com/contents/search.
Upper GI endoscopy. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.niddk.nih.gov/health-information/diagnostic-tests/upper-gi-endoscopy.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Buka di app