Deferoxamine​: Manfaat, Efek Samping dan, Dosis

Update terakhir: Mar 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 681.599 orang

Deferoxamine merupakan salah satu jenis obat yang digunakan apabila terdapat kelebihan kandungan zat besi di dalam tubuh pada pasien transfusi darah akibat anemia karena termasuk dalam agen chelating zat besi. Selain itu obat ini juga digunakan untuk keracunan aliuminium pada pasien hemodialisis.

Obat deferoxamine merupakan obat yang selalu disiapkan di rumah sakit terutama di ruangan transfusi. Obat ini juga sebagai terapi tindakan gawat darurat pada pemberian transfusi apabila diketahui terdapat peningkatan kadar zat besi di dalam darah. Obat ini mengikat zat besi bebas serta alumunium di peredaran dan sehingga dapat dikeluarkan lebih cepat di air kencing.

Deferoxamine merupakan agen chelating yang dapat melepaskan zat besi yang berlebih di dalam tubuh. Obat defroxamine bekerja dengan mengikat zat ferric dalam besi dan mengubahnya menjadi ferrioxamine yang merupakan kompleks stabil yang dengan mudah dikeluarkan oleh ginjal. Obat deferoxamine dimetabolisme di enzim plasma, beberapa diekskresikan ke tinja dan urin.

Manfaat obat Deferoxamine

Obat deferoxamine memiliki manfaat yaitu:

  • Mencegah kelebihan zat besi pada transfusi darah
    Anemia adalah suatu kondisi di mana tubuh kekurangan sel darah merah dan hemoglobin yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan sel darah merah menyebabkan pasokan oksigen ke organ dan jaringan tubuh ikut berkurang yang dapat memicu kerusakan organ yang menyebabkan efek patologis lain. Tranfusi darah menjadi pilihan untuk berbgagai jenis anemia yang harus dilakukan di instalasi atau rumah sakit.
  • Keracunan alumunium
    Alumunium terdapat di dalam darah dan kita dapat dari makanan sehari-hari. Kadar alumunium yang tinggi tentu sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat mengganggu stabilitas organ tulang dan otak. Peningkatan alumunium di otak dapat menyebabkan demensia yang merusak fungsi otak.

Keracunan alumunium juga merupakan kendala utama pada pasien hemodialisa atau cuci darah. Proses dialisis tidak dapat mengeluarkan ekskresi alumunium dari dalam tubuh, sehingga menimbulkan penumpukan berlebih yang menjadi racun bagi tubuh.

Keracunan alumunium dapat berdampak pada beberapa gangguan organ tubuh antara lain:

  • Gangguan tulang akibat penumpukan alumunium yang mengganti kalsium
  • Anemia mikrositik
  • Ensefalopati otak
  • Gagal ginjal kronis

Efek samping dan interaksi Deferoxamine dengan obat lain

Obat injeksi deferoxamine dapat menimbulkan efek samping pada beberapa orang, di antaranya:

  • Nyeri, gatal, dan rasa terbakar pada area suntikan
  • Demam
  • Nyeri kepala
  • Gangguan otot seperti nyeri otot (mialgia), kaku otot, displasia metafisis
  • Mual muntah
  • Telinga berdenging
  • Nyeri perut
  • Gangguan pernapasan seperti asma, sianosis, dan sesak napas
  • Hipotensi
  • Takikardia
  • Peningkatan kadar transminasi di organ hati

Interaksi antar obat dapat muncuk apabila deferoxamine diberikan bersamaan dengan obat lain seperti:

  • Penggunaan obat deferoxamine bersamaan dengan Phenothiazine menimbulkan gangguan kesadaran sementara
  • Penggunaan Obat deferoxamine bersamaan dengan vitamin C dapat menimbulkan peningkatan kelasi besi. Pemberian ini terkait kurangnya kadar vitamin C akibat peningkatan zat besi

Perhatian terkait penggunaan Defereoxamine

Informasi penting yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat deferoxamine yaitu:

  • Obat ini tidak boleh diberikan pada ganguan mata seperti katarak, neuritis, skotoma
  • Obat ini tidak boleh diberikan pada penderita gagal ginjal kronis
  • Obat ini memicu retardasi pertumbuhan apabila pemberian deferoxamine pada penderita dengan kadar ferritin yang rendah

Dosis dan cara penggunaan Deferoxamine

Obat deferoxamine tersedia dalam bentuk injeksi intramuskular (pada otot) dan intravena (pada pembuluh darah) dengan dosis 500 mg/2 ml kandungan desferal, serta 2 gram/8ml desferal.

Untuk kasus peningkatan zat besi, injeksi intravena diberikan secara lambat selama 8 hingga 12 jam dengan dosis 40 mg/kg/hari selama 5 hingga 7 hari setiap minggunya. Dosis tidak boleh melebihi 60 mg/kg/hari. Dan untuk anak-anak dosis tidak boleh melebihi 40 mg/kg/hari karena dapat beresiko pada gangguan pertumbuhan.

Untuk injeksi intramuskular diberikan 500 hingga 1000 mg sekali suntik dan tidak melebihi 1000 mg. Injeksi bersifat steril dan hanya boleh digunakan dalam sekali suntik.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit