Tak Bikin Kerja Cepat, Ini 7 Dampak Buruk Multitasking Pada Kesehatan

Dipublish tanggal: Jul 2, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Okt 3, 2019 Waktu baca: 4 menit
Tak Bikin Kerja Cepat, Ini 7 Dampak Buruk Multitasking Pada Kesehatan

Kesibukan dalam bekerja, bersosialisasi, bahkan mengurus rumah tangga membuat Anda merasa kekurangan waktu. Seakan-akan waktu 24 jam tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan, sehingga Anda dituntut harus melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu atau disebut multitasking. 

Multitasking memang lebih praktis dan bisa membuat banyak pekerjaan cepat selesai. Namun, multitasking ternyata tidak selalu baik, justru diam-diam mengganggu kinerja otak.

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Dampak multitasking yang tak baik bagi kesehatan

Secara tidak sadar, saat Anda melakukan kegiatan multitasking, Anda memberikan beban berat bagi otak. Padahal, otak diciptakan untuk tidak melakukan hal berat secara bolak-balik dalam waktu bersamaan.

Berdasarkan penelitian dari University of London menunjukkan bahwa orang yang melakukan kegiatan multitasking mengalami penurunan IQ saat diberikan tugas yang berhubungan dengan kognitif. 

Baca Juga: 10 Pekerjaan dengan Tingkat Depresi Tertinggi

Selain itu, waspadai juga dampak multitasking lainnya bagi kesehatan dan kehidupan Anda, yaitu:

1. Produktivitas berkurang

Kalau Anda ingin melakukan multitasking dengan tujuan untuk menyelesaikan pekerjaan, maka ini bukanlah hal yang dibenarkan dalam multitasking. Mengapa? 

Guy Winch, PhD, seorang penulis buku Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt and Other Everyday Psychological Injuries, berpendapat bahwa kemampuan otak cukup terbatas untuk fokus pada pekerjaan yang dilakukan. Jika satu pekerjaan membutuhkan fokus dari otak Anda, apalagi jika lebih dari satu?

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Menurut Winch, otak Anda tidak akan fokus pada pekerjaan saat multitasking, namun justru berfokus pada 'pergantian' pekerjaan yang bolak-balik dilakukan dalam waktu bersamaan tersebut.

2. Memperlambat kinerja Anda

Anda mungkin berharap bahwa multitasking bisa membuat pekerjaan Anda selesai tepat waktu atau lebih cepat. Namun, kenyataannya hal tersebut tidaklah tepat.

Mengutip dari laman Health, sebuah penelitian dari University of Utah pada tahun 2008 menemukan bahwa kinerja otak justru akan melambat dan mengalami kebingungan saat multitasking. 

Contohnya yaitu saat supir menyetir sambil membalas pesan, ia tidak akan fokus melihat ke jalan, kapan harus belok, menyalip, atau menambah kecepatan. Akibatnya, Anda bisa akan sampai tempat tujuan lebih lama dari yang seharusnya.

3. Rawan membuat kesalahan

Selain berkurangnya produktivitas, multitasking  juga berpengaruh terhadap kesalahan yang terjadi saat Anda melakukan pekerjaan. 

Mengutip dari Brain Facts, ilmuwan dari Institut National de la Santé et de la Recherche Médicale (INSERM) yang berada di Paris melakukan penelitian terhadap suatu grup. Mereka diminta melakukan dua tugas dalam waktu bersamaan, dan satu dari tugas tersebut akan diberikan penghargaan apabila hasilnya bagus.

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Namun, hasilnya menunjukkan bahwa pada grup tersebut muncul adanya aktivitas sel saraf yang terdeteksi hanya pada salah satu sisi bagian korteks prefrontal. Korteks prefrontal adalah bagian saraf yang mengatur fungsi neuropsikiatri seperti perencanaan, pengaturan, penyelesaian masalah, dan kepribadian.

Saat penghargaan ditawarkan lebih besar untuk tugas lainnya, sisi korteks yang lain mulai aktif bekerja. Ketika ilmuwan meminta grup tersebut untuk menyelesaikan tugas lainnya, malah terjadi kesalahan dalam pengerjaan tugas tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan otak kita terbatas, hanya bisa fokus dalam satu pekerjaan.

4. Menambah stres

Benarkah dampak multitasking menyebabkan stres Anda bertambah? Para ahli dari University of California Irvine melakukan penelitian terhadap karyawan yang bekerja. Keduanya dibedakan dalam hal dapat atau tidak dapat akses email secara konstan di kantor. 

Menunjukkan hasil bahwa, karyawan yang mendapat email kantor secara konstan mengalami peningkatan denyut jantung. Hal ini menandakan bahwa telah terjadi peningkatan stres dalam tubuh tubuh. 

Sementara itu, karyawan yang tidak secara konstan mendapat email kantor, dengan kata lain tidak terlalu banyak kegiatan multitasking, denyut jantungnya cenderung rendah dan tingkat stresnya pun lebih rendah. 

Contoh sederhana lainnya adalah saat Anda menjelang ujian atau tes, Anda harus belajar namun film kesukaan Anda sedang tayang di televisi. Kemudian Anda memutuskan untuk belajar sambil menonton televisi, hasilnya justru menjadi kurang fokus dan kurang maksimal.

5. Melewatkan momen kehidupan Anda

Kesibukan Anda saat melakukan multitasking membuat Anda kehilangan momen kehidupan, meskipun momennya sederhana. Seperti saat Anda berjalan sambil memainkan handphone membalas pesan, Anda tidak menyadari ada teman Anda atau berpapasan dengan teman lama Anda.

6. Detail penting terlupakan

Saat multitasking, memori otak Anda tidak bisa menangkap peristiwa secara keseluruhan. Akibatnya, kemungkinan Anda akan kehilangan detil-detil penting dalam pekerjaan.

Interupsi di satu tugas dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada memori jangka pendek. Apalagi dengan bertambahnya usia.

Misalnya saat Anda membaca buku sambil menonton televisi, Anda mungkin bisa memahami informasi pada halaman tertentu. Namun seterusnya, Anda bisa jadi tidak paham dengan apa yang Anda baca.

7. Mengganggu keharmonisan bersama pasangan

Waktu bersama pasangan haruslah berkualitas karena akan menentukan kualitas hubungan ke depan. Sering terjadi ketika sepasang kekasih duduk berdua di restoran namun sibuk dengan handphone mereka masing-masing, hal ini akan mengurangi kualitas dan komunikasi yang merenggang dalam hubungan mereka.

Baca Juga: Ketahui Efek dan Cara Mengurangi Multitasking Pekerjaan

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
12 Surprising Reasons Multitasking Doesn't Work. Health.com. (https://www.health.com/condition/adhd/12-reasons-to-stop-multitasking-now)
Multitasking—a medical and mental hazard. Harvard Health. (https://www.health.harvard.edu/blog/multitasking-a-medical-and-mental-hazard-201201074063)
How Multitasking Affects Productivity and Brain Health. Verywell Mind. (https://www.verywellmind.com/multitasking-2795003)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app