Apa Bedanya Cacar Monyet dengan Cacar Air?

Dipublish tanggal: Mei 17, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 18, 2019 Waktu baca: 2 menit
Apa Bedanya Cacar Monyet dengan Cacar  Air?

Baru-baru ini, kasus cacar monyet (monkeypox) sedang ramai dibicarakan akibat kembali terjadi di Singapura. Tetapi belum semua orang memiliki informasi mendalam mengenai penyakit ini. Sebagian orang memiliki anggapan yang salah mengenai penyakit cacar monyet ini yang dikira sama dengan cacar air karena gejala kedua penyakit tersebut sekilas mirip. Padahal kedua penyakit cacar tersebut berbeda, baik dari jenis virus hingga cara penularannya.

Cara penularan cacar monyet dan cacar air

Penyakit cacar monyet (monkeypox) sendiri termasuk dalam penyakit zoonosis langka yang umumnya terjadi di wilayah Afrika Tengah dan Barat. Virus monkeypox secara umum ditularkan melalui hewan ke tubuh manusia, biasanya berasal dari hewan primata (monyet) dan hewan pengerat (tikus, tupai) yang telah terkontaminasi. Tetapi tetap ada kemungkinan penularan penyakit cacar monyet terjadi antar manusia meskipun jarang terjadi.

Jika penyakit cacar monyet disebabkan oleh virus Monkeypox, penyakit cacar air disebabkan oleh virus Varicella zoozter yang biasanya ditularkan melalui pernapasan dan kontak langsung dengan lesi orang terinfeksi. 

Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan bahwa penularan penyakit cacar monyet antar manusia lebih sulit terjadi, tidak semudah penularan flu atau penyakit ringan lainnya, karena rantai penularan virus Monkeypox lebih mudah terputus setelah pasien yang tertular melalui tahap karantina. Sementara penyakit cacar air dapat menular dalam waktu 48 jam sebelum munculnya ruam pada kulit.

Penularan cacar monyet dapat terjadi melalui kontak darah atau cairan tubuh, sekresi saluran pernapasan yang terinfeksi, serta gigitan hewan yang masuk melalui luka pada kulit atau cairan tubuh manusia. Penyakit cacar monyet juga dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia hingga kematian. Tetapi bagi penderita cacar monyet yang masih ringan umumnya dapat sembuh dalam waktu 2-3 minggu. Sementara cacar air akan sembuh hanya dalam waktu 1-2 minggu.

Gejala cacar monyet dan cacar air

Gejala cacar monyet umumnya berupa demam, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit punggung, sakit kepala parah, lemas, dan ruam pada kulit. Sebelum gejala ini muncul, cacar monyet diawali dengan periode inkubasi selama 6-16 hari. 

Sementara itu, pada cacar air akan ditandai dengan munculnya rasa gatal dan ruam kemerahan pada wajah yang menyebar ke seluruh tubuh. Gejala lain cacar air adalah demam, sakit kepala, dan hilangnya nafsu makan.

Cara pencegahan cacar monyet dan cacar air

Awalnya sebuah penelitian menunjukkan keberhasilan vaksin variola yang efektif mencegah cacar monyet sebesar 85 persen, namun vaksin tersebut sudah lama tidak diproduksi setelah eradikasi variola global. Sehingga saat ini belum ditemukan lagi cara yang tepat untuk mengobati penyakit cacar monyet. 

Tetapi untuk mencegah penyakit cacar monyet, Anda dapat menghindari kontak kulit secara langsung dengan orang atau hewan serta tidak mengonsumsi daging satwa liar yang tidak dimasak dengan benar. Sementara itu, untuk mencegah terjadinya cacar air, Anda dapat melakukan vaksinasi cacar air (Varicella).


13 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Stone K, et al. BET 2: NSAIs and chickenpox. Emergency Medicine Journal: EMJ. 2018;35:66.
Chickenpox (varicella). Merck Manual Professional Version. https://www.merckmanuals.com/professional/infectious-diseases/herpesviruses/chickenpox.
Longo DL, et al., eds. Varicella-zoster virus infections. In: Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2018. https://accessmedicine.mhmedical.com.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app