Doctor men
Ditulis oleh
MELIANTY IPARDJO
Doctor men
Ditinjau oleh
SCIENTIA INUKIRANA
Kesehatan Fisik

Apakah Suntik Botok pada Wajah Aman?

Update terakhir: NOV 14, 2019 Tinjau pada NOV 14, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.296.373 orang

Tanda-tanda penuaan pertama kali sering tampak pada keriput di sekitar mata, dahi, pipi, dan bibir. Keriput adalah kerutan dan merupakan fitur normal dari wajah manusia. Tetapi banyak orang merasa kerutan membuat mereka terlihat lelah atau lebih tua.

Untuk mengurangi munculnya keriput, beberapa orang menggunakan suntikan toksin botulinum. Toksin botulinum yang digunakan adalah tokin A dan B. Suntikan botox A sering disebut dengan nama merek dagang mereka, seperti Botox®, Dysport® atau Xeomin®. Sedangkan suntikan botox B dikenal dengan merk dagang Myobloc.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Suntikan ini mengendurkan otot-otot tertentu di wajah, dan membuat kerutan-kerutan pada wajah menjadi kurang terlihat untuk jangka waktu tertentu.

Beberapa fakta tentang Suntik Botox

  • Toksin Botulinum yang ditemukan terdapat 7 toksin, namun hanya toksin A dan B yang digunakan di dunia medis
  • Toxin ini mulai diperkenalkan oleh dokter German bernama Muller dengan nama “sausage poison” atau botulus atau toksin berbentuk sosis.
  • Toksin botulinum adalah bahan yang telah dikenal selama lebih dari satu abad dan digunakan untuk tujuan medis selama lebih dari 50 tahun. Penggunaan Botulinum toxin, awalnya adalah untuk mata malas (strabismus), blepharospasm (ketidakmampuan untuk menggerakkan kelopak mata dengan cara tertentu) pada tahun 1989
  • Botulinum Toxin adalah protein Neurotoxin yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum.Protein neurotoxin berarti sejenis protein yang meracuni syaraf. Toxin Yang paling sering digunakan adalah type A dan B yang biasanya dipakai di dunia medis dan kecantikan.
  • Pada tahun 2002,penggunaan Botox telah disetujui oleh FDA (badan BPOM dari Amerika)  untuk mengurangi garis kerutan di daerah (glabella) antara mata di dahi dan telah digunakan dengan sukses pada lebih dari 11 juta pasien sejak saat itu.
  • Pada tahun 2004, Botox disetujui oleh FDA untuk mengobati suatu kelainan kelebihan keringat (hiperhidrosis), dan pada tahun 2010, Botox disetujui untuk pengobatan sakit kepala migrain.
  • Kesalahpahaman yang umum diperbincangkan adalah bahwa Botox benar-benar melumpuhkan otot-otot di wajah. Meskipun, hal ini dapat terjadi dengan dosis Botox yang ekstrim, kebanyakan dokter berusaha menyuntikkan dengan dosis yang memungkinkan pasien hanya mendapatkan efek yang diinginkan dari suntik botox tanpa menimbulkan komplikasi yang lebih lanjut.
  • Efek samping dari suntik botox, umumnya terjadi karena adanya kesalahan dari operator, baik dari pemberian botox yang sudah kadaluarsa sampai salah dalam teknik penyuntikan.

Resiko suntik botox

1. Kelopak mata yang “jatuh”

Risiko untuk melakukan suntik botox umumnya sangat kecil . Risiko utama terdiri dari sakit kepala, nyeri, dan penyakit seperti flu. Dalam kasus yang jarang terjadi, mungkin terjadi kekakuan pada otot daerah mata yang menyebabkan kelopak mata jatuh. 

Penting bagi ahli bedah kosmetik untuk menilai kelopak mata pasien sebelum menyuntikkan karena pasien mungkin bukan kandidat yang baik jika pasien memiliki bentuk kelopak mata yang tampak terlalu menurun. 

Ptosis (kelopak mata sulit membuka) dapat terjadi pada hingga 5% pasien tetapi sangat jarang jika ahli bedah kosmetik melakukan prosedur skrining terlebih dahulu. Komplikasi-komplikasi ini biasanya merupakan kejadian yang sangat jarang dan efek ptosis bisa menghilang seiring dengan waktu. 

2. Racun Botulinum yang dapat menyebar ke sistem saraf pusat

Baru-baru ini, timbul kekhawatiran tentang retrograde transmisi toksin botulinum, yang berarti bahwa racun dapat melakukan perjalanan kembali ke sistem saraf pusat,dan dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang.

Tapi masih ada keraguan akan hasil penelitian ini, karena Studi yang dilakukan di Italia oleh Flavia Antonucci dilakukan menggunakan racun yang tidak dipersiapkan secarah khusus seperti pada botox yang digunakan pada wajah. 

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Selain itu, penelitian ini dilakukan pada hewan dan dengan suntikan toksin ke satu area dan dalam konsentrasi hampir 150 kali lebih besar dari suntikan normal untuk indikasi kosmetik, yang mana suntikan untuk indikasi kosmetik tersebar di beberapa situs.

Namun, ada kekhawatiran yang cukup bahwa FDA menerapkan persyaratan REMS (Risk Evaluation and Mitigation Strategy) untuk semua persiapan toksin botulinum yang secara khusus membahas masalah penyebaran toksin dan risiko masalah, yang mengarah ke kematian. 

Selain itu walaupun botox dinilai aman sejak belasan tahun, namun belum ada study yang spesifik mempelajari efek samping jangka panjang suntik botox pada wajah.

3. Tidak untuk kondisi tertentu

Botox tidak boleh digunakan saat

  • Jika pasien alergi terhadap telur, sangat penting untuk tidak menggunakan bahan ini karena Botox disiapkan dengan basis albumin (telur)
  • jika pasien hamil, Botox tidak dianjurkan karena sangat berbahaya bagi janin (kategori kehamilan C).
  • Infeksi pada daerah yang akan dilakukan suntikan
  • Kelainan neuromuskular
  • Penggunaan obat :aminoglikosida, calcium chanel blocker, polymyxins , lincosamide
  • Menyusui
  • Peradangan kulit
  • Usia > 65

Apa yang harus anda lakukan jika muncul komplikasi suntik botox?

Jika kelopak mata anda menurun setelah prosedur Botox, sebaiknya Anda memberi tahu ahli bedah kosmetik karena ada obat yang tersedia untuk membantu kondisi ini. 

Kesulitan lain, seperti kesulitan bernapas atau ruam, nyeri,  harus segera dilaporkan ke dokter bedah atau spesialis kulit. Memar umumnya hilang dalam waktu satu sampai dua minggu, ada obat lain yang tersedia untuk perawatan ini, seperti perawatan topikal vitamin K

Botox pada area dibawah alis dapat mengakibatkan komplikasi kelopak mata yang turun (ptosis) yang berlangsung selama 48jam hingga 14hari.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit