Aturan Mengonsumsi Obat Antibiotik Saat Diare

Dipublish tanggal: Agu 8, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Waktu baca: 3 menit
Aturan Mengonsumsi Obat Antibiotik Saat Diare

Diare merupakan kondisi di mana aktivitas buang air besar menjadi lebih sering dengan kondisi tinja yang lebih cair disertai dengan rasa mual dan demam, kram perut, bahkan hingga dehidrasi. Pada dasarnya, pengobatan diare bertujuan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat keluarnya bersamaan buang air besar.

Jika bakteri merupakan penyebab utama diare, maka pemberian obat antibiotik merupakan solusi yang tepat untuk membantu mengatasi diare. Tetapi diare sendiri bisa dipengaruhi oleh sejumlah faktor penyebab, di antaranya infeksi virus atau bakteri, bisa juga karena intoleransi laktosa, alergi pada jenis makanan dan minuman tertentu, atau bisa juga akibat faktor keracunan makanan atau makanan basi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Berikut ini beberapa jenis bakteri, virus, dan parasit penyebab diare:

  • Virus jenis rotavirus, norovirus, astrovirus, maupun adenovirus
  • Bakteri jenis Salmonella, E. Coli, Staphylococcus, Campylobacter
  • Parasit Giardiasis

Pengobatan diare dengan obat-obatan tertentu

Sebenarnya diare dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari, tetapi dalam kondisi diare yang cukup parah dan disertai dengan dehidrasi mungkin diperlukan pemberian obat diare. Beberapa obat diare yang dapat diberikan sesuai dengan kondisi penderita, di antaranya: 

  • Larutan rehidrasi oral untuk mengatasi kekurangan cairan tubuh akibat dehidrasi
  • Obat antibiotik untuk mengatasi diare akibat bakteri
  • Obat antidiare untuk mengurangi tingkat frekuensi BAB
  • Probiotik untuk melawan bakteri jahat penyebab diare pada saluran cerna
  • Obat paracetamol atau ibuprofen untuk mengatasi diare disertai demam dan pusing.

Sebenarnya pemberian obat antibiotik juga tidak perlu selalu diterapkan pada penderita diare karena hal ini disebabkan oleh virus yang mengakibatkan infeksi biasanya akan mati sendiri dalam waktu 3-5 hari tanpa perlu diberikan obat apapun. Pemberian obat antibiotik baru bisa diterapkan apabila penderita mengalami diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri di mana penderita diare mengalami kondisi yang parah dan berpotensi menular kepada orang lain. Obat antibiotik yang biasa diberikan saat diare adalah ciprofloxacin dan metronidazole.

Tetapi perlu dipahami bahwa pemberian obat antibiotik tidak bisa sembarangan, karena pemberian obat antibiotik harus sesuai dengan resep dan anjuran dokter dan disesuaikan dengan kondisi yang dialami. Selain itu, jika diare disebabkan oleh virus maka tidak perlu diberikan obat antibiotik. Jika penderita diare diberikan obat antibiotik secara sembarangan maka bisa berakibat fatal. Salah satu akibat yang dapat ditimbulkan adalah bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik dan bahkan bisa menyebabkan sakit diare menjadi bertambah parah.

Baca juga: Menentukan Obat Diare secara Tepat

Cara mengatasi diare secara alami

Sebelum mengonsumsi obat antibiotik saat diare, Anda sebenarnya bisa melakukan perawatan secara mandiri di rumah guna mengatasi diare dan hilangnya cairan secara berlebih dengan melakukan sejumlah hal berikut, di antaranya:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

1. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh

Ketika diare, minum air putih secara teratur bisa membantu menjaga asupan cairan tubuh sehingga terhindar dari dehidrasi berat. Selain air putih biasa, coba tambahkan minuman elektrolit untuk meningkatkan kadar air dalam tubuh secara lebih cepat. Bagi penderita diare yang juga memiliki masalah pada jantung, ginjal, dan hati sebaiknya berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan saran yang tepat.

Baca juga: Jumlah Air Putih yang Dibutuhkan Tubuh

2. Hindari makanan pedas, asam, susu dan kafein

Jika sedang diare, Anda dianjurkan untuk menghindari konsumsi susu paling tidak hingga 3 hari setelah gejala diare menghilang. Selain susu, hindari juga makanan pedas, asam (buah-buahan), minuman beralkohol, dan kafein seperti kopi sampai 48 jam pasca gejala diare menghilang. 

3. Konsumsi probiotik (bakteri baik)

Saat diare menyerang, Anda justru dianjurkan untuk mengonsumsi keju atau yogurt yang memiliki kandungan probiotik dengan jumlah yang cukup dan tidak berlebihan. Karena dengan mengonsumsi probiotik yang mengandung bakteri baik dapat membantu melancarkan sistem pencernaan serta mencegah diare bertambah parah.

Baca juga: Cara Meningkatkan Bakteri Baik Dalam Saluran Pencernaan

4. Perhatikan makanan yang dikonsumsi

Ketika sedang mengalami diare, ada baiknya untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan kaya serat seperti sup dan bubur ayam. Kurangi makanan berminyak dan hindari mengonsumsi daging mentah.

Jika diare yang dialami berlangsung selama lebih dari 2 hari, sebaiknya Anda pergi ke klinik atau rumah sakit untuk berkonsultasi ke dokter dan mendapatkan pengobatan yang tepat, terutama jika diikuti oleh gejala diare, seperti demam tinggi sampai suhu tubuh berada di atas 39 derajat Celcius, tinja mengandung darah, tingkat dehidrasi yang parah dan disertai nyeri perut yang hebat.

29 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Walls RM, et al., eds. Diarrhea. In: Rosen's Emergency Medicine: Concepts and Clinical Practice. 9th ed. Philadelphia, Pa.: Elsevier; 2018. https://www.clinicalkey.com.
McDonald LC, et al. Clinical practice guidelines for Clostridium difficile infection in adults and children: 2017 update by the Infectious Diseases Society of America (IDSA) and Society for Healthcare Epidemiology of America (SHEA). Clinical Infectious Diseases. 2018;66:e1.
Managing diarrhea. International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders. http://www.iffgd.org/site/gi-disorders/functional-gi-disorders/diarrhea/management.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app