HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
DR. SCIENTIA INUKIRANA
Ditinjau oleh
DR. SCIENTIA INUKIRANA

Opisthotonos - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Apr 12, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Tinjau pada Agu 26, 2019 Waktu baca: 4 menit

Opisthotonos atau opistotonus adalah jenis postur abnormal yang disebabkan oleh kejang otot yang kuat. Opisthonos paling sering terjadi pada bayi dan anak kecil karena sistem saraf mereka belum sepenuhnya berkembang. Kondisi ini juga biasa ditemukan pada penderita tetanus.

Beberapa kondisi yang terkait dengannya bisa merupakan suatu kondisi yang serius, sehingga perawatan medis yang cepat seringkali diperlukan.

Kejang otot  pada Opisthonos akan menyebabkan posisi punggung anak Anda menjadi sangat melengkung membentuk busur. Tumit dan kepala anak Anda akan menekuk pada tingkat yang ekstrem. Tangan dan lengan anak Anda akan bergerak dengan kaku.

Kejang bisa datang tiba-tiba dan terjadi berulang kali. Mereka juga dapat terjadi pada orang dewasa, tetapi ini jauh lebih jarang terjadi.

Penyebab yang Mendasarinya

Beberapa penyebab mendasar berikut dapat menyebabkan kejang yang menyebabkan Opisthotonos:

Kondisi otak

1. Meningitis

Meningitis (radang selaput otak) adalah penyebab yang paling umum menyebabkan Opisthotonos. Ketika meninges, atau selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang, meradang karena virus atau bakteri, kejang adalah cara tubuh untuk meredakan rasa sakit yang disebabkan oleh peradangan pada meninges. Posisi ini membantu menjaga posisi tulang belakang anak Anda tetap pada posisinya.

2. Sindrom Arnold-Chiari

Sindrom Arnold-Chiari adalah cacat struktural yang terjadi ketika bagian belakang otak anak Anda tumbuh turun melalui bagian bawah tengkorak. Hal ini biasanya menyebabkan kejang yang parah pada anak-anak yang juga memiliki kondisi kelebihan cairan di otak (hidrosefalus).

3. Perdarahan subaraknoid

Perdarahan subaraknoid terjadi ketika anak Anda mengalami pendarahan pada area di antara otak dan jaringan di sekitarnya. Perdarahan subaraknoid dapat disebabkan oleh cedera, pelebaran pembuluh darah yang disebut aneurisma, atau gangguan perdarahan.

4. Tetanus

Anak Anda bisa terinfeksi tetanus ketika bakteri yang ditemukan di tanah dan kotoran binatang masuk ke tubuh melalui luka. Namun, dengan pemberian vaksin penyakit tetanus sudah jarang ditemukan. Tetanus dapat diobati tetapi bisa berakibat fatal pada orang yang belum divaksinasi. Racun pada bakteri ini akan mengakibatkan kekakuan otot berlebihan.

5. Overdosis bronkodilator adrenergik

Kondisi ini terjadi ketika Anda menghirup terlalu banyak obat. Overdosis bronkodilator (obat pembuka jalan nafas) adrenergik dapat terjadi melalui penyalahgunaan bronkodilator, inhaler yang mengobati asma dan kasus bronkitis kronis.

Kemungkinan penyebab lain adalah tumor otak, cedera kepala, dan kejang. Dalam kasus yang jarang terjadi, Opisthotonos dapat terjadi pada bayi yang mengalami gejala penarikan alkohol jika ibu mereka rutin mengkonsumsi alkohol saat hamil.

Kapan Menemui Dokter

1. Overdosis bronkodilator

Hubungi call centre yang menyediakan layanan medis segera jika Anda curiga anak Anda mungkin menghirup obat asma terlalu banyak atau obat bronkitis kronis. Segera bawa anak Anda ke unit gawat darurat terdekat jika Anda melihat tanda-tanda overdosis, yang meliputi:

  • kesulitan bernafas
  • pernapasan cepat
  • bibir dan kuku biru
  • mual
  • muntah
  • kejang
  • detak jantung yang cepat
  • pupilterdilatasi

2. Perdarahan subaraknoid

Hubungi dokter Anda segera jika Anda mencurigai anak Anda mungkin mengalami pendarahan subarachnoid. Perdarahan subaraknoid biasanya menyebabkan sakit kepala yang sangat menyakitkan di daerah bagian belakang kepala. Gejala lain yang mungkin terjadi termasuk:

  • sensitivitas terhadap cahaya
  • penurunan kewaspadaan
  • masalah penglihatan
  • leher kaku
  • mual
  • nyeri otot di leher dan bahu

3. Tetanus

Hubungi dokter Anda segera jika Anda berpikir Anda atau anak Anda memiliki infeksi tetanus. Gejala infeksi tetanus meliputi:

  • rahang kaku
  • leher
  • otot perut yang kaku
  • kesulitan menelan
  • demam
  • berkeringat
  • detak jantung yang cepat

Mengobati Opisthotonos

Metode pengobatan tergantung pada kondisi yang mendasarinya.

1. Bakteri meningitis

Dokter anak Anda akan mengobati meningitis bakteri dengan antibiotik. Infeksi akibat virus biasanya diobati dengan penghilang rasa sakit, istirahat total di tempat tidur, dan pemberian cairan secara optimal.

2. Sindrom Arnold-Chiari

Pengobatan tergantung pada tingkat keparahan malformasi tersebut. Pembedahan adalah perawatan yang paling mungkin dilakukan untuk memperbaiki malformasi yang lebih bergejala atau pada tahap lanjut.

Jika anak Anda juga memiliki kelebihan cairan di otak, suatu prosedur shunt dapat dilakukan dengan tujuan mengalirkan cairan dan mengurangi tekanan.

3. Pendarahan di otak

Jika anak Anda mengalami pendarahan di otak, pembedahan dapat memperbaiki penyebabnya. Operasi juga akan mengurangi tekanan pada otak dan mencegah terjadinya kerusakan otak permanen.

4. Tetanus

Tetanus tidak dapat disembuhkan, tetapi obat-obatan dapat menghilangkan gejalanya. Perawatan biasanya dilakukan dengan cara:

  • membersihkan luka agar infeksi tidak menyebar
  • antibiotik untuk membunuh bakteri
  • suntikan anti toksin tetanus untuk mengurangi dampak infeksi

Anak Anda mungkin membutuhkan perawatan suportif. Misalnya, tetanus yang parah dapat memengaruhi otot-otot yang dibutuhkan anak untuk bernapas. Dalam hal ini, dokter dapat menggunakan ventilator (mesin bantu nafas) untuk membantu bernafas.

5. Overdosis bronkodilator

Anak Anda kemungkinan besar akan menerima cairan intravena untuk mengatasi overdosis.

Mencegah Opisthotonos

Anda dapat mengurangi risiko anak Anda menderita opisthotonos dengan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kondisi mendasar yang menyebabkannya.

1. Pencegahan meningitis

Anda dapat mengurangi risiko anak Anda menderita meningitis melalui sering mencuci tangan dan menjauh dari orang lain yang memiliki penyakit ini. Vaksin juga dapat melindungi anak Anda dari beberapa bentuk meningitis bakteri.

2. Pencegahan perdarahan subaraknoid

Mendeteksi secara dini dan melakukan pembedahan aneurisma segera dapat mengurangi risiko pendarahan subarachnoid pada anak Anda.

3. Pencegahan tetanus

Vaksin membantu mencegah infeksi tetanus. Pastikan anak Anda mendapatkan vaksin yang direkomendasikan dan booster sesuai jadwal untuk imunisasi lengkap.

Medically reviewed by University of Illinois-Chicago, School of Medicine on July 20, 2016 — Written by Amanda Delgago

 


4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Medline Plus, opisthotonos (https://medlineplus.gov/ency/article/003195.htm).
University of Illinois-Chicago, School of Medicine, opisthotonos (https://www.healthline.com/health/opisthotonos), 20 July 2016.

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app