Hidrokel- Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: Apr 30, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 668.590 orang

Hidrokel merupakan kondisi kantung berisi cairan yang terbentuk di sekitar testis. Kondisi ini paling umum terjadi pada bayi. Hampir 10 persen bayi laki-laki dilahirkan dengan kondisi hidrokel. Namun, kondisi ini juga dapat mempengaruhi laki-laki dari segala usia.

Hidrokel umumnya tidak menimbulkan ancaman pada testis, tidak sakit dan dapat hilang tanpa perawatan. Namun, jika Anda mengalami pembengkakan skrotum, segera temui dokter untuk menyingkirkan penyebab lain yang lebih berbahaya seperti kanker testis.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat GRATIS Ongkir via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir minimal pembelanjaan Rp50.000.

Medicine delivery 01

Penyebab Hidrokel

Menjelang akhir kehamilan, testis anak laki-laki turun dari perutnya ke dalam skrotum. Skrotum adalah kantung kulit yang memegang testis begitu mereka turun.

Selama perkembangan, setiap testis memiliki kantung yang terbentuk secara alami di sekitarnya yang mengandung cairan. Biasanya, kantung ini menutup sendiri dan tubuh menyerap cairan di dalamnya selama tahun pertama bayi. Namun, ini tidak terjadi pada bayi dengan hidrokel. 

Bayi yang lahir prematur berisiko lebih tinggi mengalami hidrokel, menurut beberapa penelitian.

Hidrokel juga dapat terbentuk di kemudian hari, sebagian besar pada pria di atas 40. Kondisi ini biasanya terjadi ketika saluran tidak menutup dan cairan masuk, atau saluran terbuka kembali. Hal ini bisa menyebabkan cairan bergerak dari perut ke dalam skrotum.

Hidrokel juga dapat disebabkan oleh peradangan atau cedera di skrotum atau di sepanjang saluran. Peradangan dapat disebabkan oleh infeksi (epididimitis) atau kondisi lain.

Jenis Hidrokel

Kedua jenis hidrokel yaitu hidrokel non-komunikatif dan komunikatif.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat GRATIS Ongkir via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir minimal pembelanjaan Rp50.000.

Medicine delivery 01
  • Non-komunikatif-  Hidrokel nonkomunikatif terjadi ketika kantung tertutup, tetapi tubuh Anda tidak menyerap cairan. Cairan yang tersisa biasanya diserap ke dalam tubuh.
  • Komunikatif-  Jenis hidrokel ini terjadi ketika kantong di sekitar testis tidak menutup, sehingga memungkinkan cairan mengalir masuk dan keluar.

Gejala Hidrokel

Hidrokel biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Satu-satu gejala umum pada kondisi ini adalah skrotum bengkak.

Pada pria dewasa, terkadang skrotum akan terasa lebih berat. Dalam beberapa kasus, pembengkakan menjadi lebih buruk di pagi hari daripada di malam hari.

Cari perawatan medis jika Anda atau anak Anda merasakan sakit skrotum yang tiba-tiba atau parah. Hal ini bisa menandai kondisi lain yang disebut dengan torsi testis. Torsi testis terjadi ketika testis menjadi bengkok, biasanya karena cedera atau kecelakaan

Torsi testis tidak umum terjadi, tetapi ini merupakan keadaan darurat medis karena dapat menyebabkan tersumbatnya suplai darah ke testis dan menyebabkan infertilitas jika tidak diobati.

Diagnosis Hidrokel

Untuk mendiagnosis hidrokel, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Jika Anda memiliki kondisi hidrokel, skrotum akan membengkak, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit.

Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan transillumination untuk memeriksa kelembutan di skrotum dan menyinari skrotum. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk menentukan apakah ada cairan di dalam skrotum. 

Jika ada cairan, skrotum akan memungkinkan transmisi cahaya dan skrotum akan tampak menyala dengan melewati cahaya. Namun, jika pembengkakan skrotum disebabkan oleh massa yang padat (kanker), maka cahaya tidak akan bersinar melalui skrotum. 

Tes ini tidak memberikan diagnosis pasti tetapi dapat sangat membantu.

Pemeriksaan penekanan pada perut juga perlu dilakukan, untuk memeriksa kondisi lain yang disebut hernia inguinalis. Kondisi ini dapat terjadi ketika bagian dari usus kecil menonjol melalui selangkangan karena lemahnya dinding perut. 

Walaupun biasanya tidak mengancam jiwa, tindakan operasi perlu dilakukan untuk mengatasi kondisi.

Pengambilan sampel darah atau urin berguna untuk menguji infeksi. Bila diperlukan, dokter dapat menganjurkan pemeriksaan ultrasonografi untuk memeriksa hernia, tumor, atau penyebab pembengkakan skrotum lainnya.

Pengobatan Hidrokel

Jika bayi Anda memiliki hidrokel, kondisi ini dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu sekitar satu tahun. Jika hidrokel anak Anda tidak hilang dengan sendirinya atau menjadi sangat besar, tindak operasi perlu dilakukan oleh seorang ahli urologi.

Pada orang dewasa, hidrokel biasanya hilang dalam waktu enam bulan. Tindakan operasi biasanya hanya dilakukan jika menyebabkan ketidaknyamanan atau pada jenis hidrokel komunikatif yang dapat menyebabkan hernia.

  • Operasi

Pembedahan untuk menghilangkan hidrokel dilakukan dengan anestesi. Dalam kebanyakan kasus, Anda akan bisa pulang dalam beberapa jam setelah operasi.

Potongan kecil dibuat di perut atau skrotum (tergantung pada lokasi hidrokel) dan hidrokel diangkat dengan operasi. Bergantung pada lokasi dan ukurannya, Anda mungkin memerlukan tabung drainase selama beberapa hari.

Risiko yang terkait dengan anestesi meliputi:

  • reaksi alergi
  • kesulitan bernafas
  • gangguan irama jantung

Risiko yang terkait dengan prosedur ini meliputi:

  • gumpalan darah atau pendarahan yang berlebihan
  • cedera skrotum, termasuk kerusakan saraf
  • infeksi
  • Aspirasi jarum

Pilihan lain untuk perawatan hidrokel adalah mengeringkannya dengan jarum panjang. Jarum dimasukkan ke dalam kantung untuk mengeluarkan cairan. Dalam beberapa kasus, suatu obat dapat disuntikkan untuk mencegah kantung mengisi kembali. 

Aspirasi jarum umumnya dilakukan pada pria yang berisiko tinggi mengalami komplikasi selama operasi.

Efek samping aspirasi jarum yang paling umum adalah rasa sakit sementara pada skrotum dan risiko infeksi.


Referensi

Choi, N. Healthline (2017). Hydrocele.

Cimador, et al. (2010). Management of Hydrocele in Adolescent Patients. Nature Reviews Urology, 7(7), pp. 379-385.

Dagur, et al. (2017). Classifying Hydroceles of the Pelvis and Groin: An Overview of Etiology, Secondary Complications, Evaluation, and Management. Current Urology, 10(1), pp. 1-14.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit