Awas, Stres Bisa Bikin Efektivitas Vaksin COVID-19 Menurun!

Dipublish tanggal: Jun 25, 2021 Update terakhir: Jun 29, 2021 Waktu baca: 4 menit
Awas, Stres Bisa Bikin Efektivitas Vaksin COVID-19 Menurun!

Ringkasan

Buka

Tutup

    • Kondisi stres, depresi, hingga perasaan kesepian dapat mengganggu respons sistem kekebalan tubuh terhadap vaksin COVID-19 sehingga efektivitasnya kurang maksimal.
    • Stres dan depresi juga dapat meningkatkan efek samping vaksin, seperti kelelahan sampai suasana hati yang buruk.
    • Cobalah berolahraga dan tidur nyenyak dalam 24 jam sebelum vaksinasi supaya cara kerja vaksin lebih optimal dalam mendongkrak sistem imun.
    • Batasi menonton berita tentang COVID-19 dan curhat lah dengan orang tepercaya agar pikiran lebih tenang.
    • Klik untuk membeli perlengkapan new normal dari rumahmu melalui HDmall. *Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia dan bisa COD.
    • Dapatkan paket cek COVID-19 berupa swab PCR, swab antigen, dan rapid test dengan harga bersahabat dan tim medis berpengalaman di HDmall.

    Sebelum menerima vaksin COVID-19, peserta harus memastikan kondisi tubuhnya dalam kondisi sehat dan fit. Bukan cuma dari fisik, kondisi mental ternyata juga perlu diperhatikan. Sebab, katanya, stres maupun depresi bisa menurunkan efektivitas vaksin COVID-19. Kok bisa, ya? 

    Benarkah stres dan gangguan mental bisa menurunkan efektivitas vaksin COVID-19?

    Orang yang ingin disuntik vaksin jenis apa pun, bukan cuma vaksin COVID-19, perlu memastikan tubuhnya sehat dan fit. Hal ini dilakukan supaya vaksin mampu bekerja efektif dalam tubuh dan meminimalkan efek samping vaksin.

    Iklan dari HonestDocs
    Beli Perlengkapan New Normal via HDmall

    Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

    Default internal ads 1

    Selain mempersiapkan fisik, kamu juga harus memastikan kondisi psikismu sehat. Kamu mungkin bertanya-tanya, memangnya kenapa?

    Menurut para ahli dari The Ohio State University College of Medicine, kondisi stres, depresi, hingga perasaan kesepian bisa memengaruhi efektivitas vaksin COVID-19. Bahkan, baik-buruknya kondisi psikologis seseorang juga turut menentukan berat atau ringannya efek samping vaksin.

    Efektivitas vaksin berbeda dengan efikasi vaksin. Efektivitas adalah kemampuan vaksin dalam menurunkan kejadian penyakit di dunia nyata, sedangkan efikasi adalah seberapa besar kemampuan vaksin untuk mencegah penularan atau infeksi penyakit dalam suatu populasi. 

    Mudahnya begini. Efikasi menunjukkan kemampuan vaksin dalam lingkup penelitian, sementara efektivitas vaksin baru bisa diketahui ketika vaksin sudah diedarkan dan digunakan di dunia nyata oleh masyarakat. 

    Kenapa efektivitas vaksin COVID-19 bisa turun saat stres?

    Pandemi COVID-19 memang telah mengubah hidup banyak orang. Jika sebelumnya kita bisa bepergian bebas ke mana pun yang kita inginkan, sekarang ruang gerak jadi terbatas karena virus corona ada di sekitar kita.

    Belum lagi dengan masalah ekonomi hingga kehilangan orang-orang tercinta akibat infeksi COVID-19. Kombinasi faktor-faktor itulah yang lambat laun membuat masyarakat kian cemas sampai mengalami stres dan depresi.

    Iklan dari HonestDocs
    Beli Perlengkapan New Normal via HDmall

    Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

    Default internal ads 1

    Para ahli mengungkapkan bahwa masalah kejiwaan seperti stres, depresi, dan kesepian dapat mengganggu respons sistem kekebalan tubuh terhadap vaksin. Hal ini menyebabkan proses pembentukan antibodi terhadap COVID-19 berjalan lebih lambat dalam tubuh, terutama pada lansia. 

    Bukan cuma mengurangi kemanjuran vaksin, stres dan depresi juga dapat meningkatkan efek samping yang lebih cepat. Mulai dari kelelahan sampai suasana hati yang buruk alias uring-uringan.

    Baca selengkapnya: Alami Efek Samping Vaksin COVID-19? Ini Cara Mengatasinya

    Beberapa jam setelah divaksin, zat penanda inflamasi dalam tubuh secara alami akan meningkat dan menghasilkan sejumlah reaksi efek samping. Ada yang hanya mengalami rasa nyeri di bekas suntikan, kelelahan, nyeri otot, sampai demam. Efek samping vaksin COVID-19 ini bisa berbeda-beda, tergantung sistem kekebalan tubuh masing-masing orang.

    Namun, pada orang yang mengalami masalah kejiwaan seperti stres emosional atau depresi, sistem kekebalan tubuhnya cenderung tidak optimal sehingga lebih rentan terkena infeksi. Hal inilah yang membuat efek samping vaksin cenderung lebih mudah muncul dibandingkan pada orang-orang yang kondisi psikisnya sehat.

    Cara menjaga kesehatan mental di masa pandemi COVID-19

    Perlu ditekankan bahwa stres dan masalah kejiwaan lainnya membuat vaksin COVID-19 jadi tidak efektif sama sekali, ya. Hanya saja, pembentukan antibodi akibat vaksin cenderung lebih lambat jika seseorang mengalami stres, depresi, atau gangguan mental lainnya.

    Iklan dari HonestDocs
    Beli Perlengkapan New Normal via HDmall

    Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

    Default internal ads 1

    Jangan khawatir, semua itu bisa diatasi dengan penerapan pola hidup sehat sebelum menerima vaksin COVID-19. Bukan cuma supaya tubuh jadi sehat secara fisik, hal ini juga dapat membantu menjaga kondisi mental agar tetap tenang dan stabil.

    Nah, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan mental agar efektivitas vaksin COVID-19 jadi lebih maksimal, yaitu:

    1. Olahraga dan tidur cukup sebelum vaksinasi

    Strategi utama yang disarankan oleh para peneliti agar efektivitas vaksin COVID-19 jadi optimal adalah melakukan olahraga dan tidur nyenyak dalam 24 jam sebelum vaksinasi. Kegiatan ini ternyata dapat membantu memaksimalkan kerja vaksin dalam mendongkrak sistem imun tubuh. Selain itu, olahraga juga bisa membantu merangsang hormon endorfin yang bikin bahagia, lho!

    2. Saring informasi soal vaksin COVID-19

    Mulai gerah dan cemas membaca berita tentang COVID-19 di TV dan media sosial? Stop dan segera matikan TV atau keluar dari akun media sosialmu. 

    Berita-berita negatif soal COVID-19 jelas akan memperburuk tingkat stres yang dirasakan. Apalagi kalau informasi yang diterima tergolong hoaks atau berita bohong yang menyesatkan. Maka dari itu, batasi menonton berita tentang COVID-19 hanya beberapa kali sehari supaya kamu lebih tenang dan tidak stres.

    Baca selengkapnya: 6 Hoaks Vaksin COVID-19 yang Tidak Perlu Kamu Percaya Lagi

    3. Curhat dengan orang yang benar-benar kamu percaya

    Jangan segan untuk bercerita atau curhat dengan orangtua, saudara kandung, atau teman yang kamu percaya. Bicarakan hal-hal yang kamu rasakan, baik itu rasa gelisah atau kecemasan, dan mintalah bantuan jika memang dibutuhkan. Meski hanya sekadar bercerita, setidaknya bisa membantu melegakan perasaan dan mengurangi stres, lho!

    Stres dan depresi tidak serta merta membuat efektivitas vaksin COVID-19 jadi hilang total, tetapi hanya memperlambat respon imun tubuh terhadap vaksin. Oleh karena itu, selain mempersiapkan fisik, pastikan kamu dalam kondisi tenang dan rileks supaya tubuh dapat menerima manfaat vaksin secara maksimal. Jika suasana hati tak juga membaik dan butuh pertolongan, segera konsultasikan ke dokter, ya!

    Baca juga: Pahami Informasi Ini Sebelum Vaksin COVID-19!

    3 Referensi
    Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

    Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

    Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
    (1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

    Tanya Dokter

    Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


    Lampirkan file (foto atau video)
    Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
    Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
    * Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

    Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

    Submit
    Buka di app