Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR VINA SETIAWAN

Kenali Craniosynostosis Dari Penyebab, Gejala dan, Pengobatannya

Update terakhir: Jul 6, 2019 Tinjau pada Mei 8, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 1.048.371 orang

Penyakit Craniosynostosis

Craniosynostosis ada;h suatu penyakit berupa adanya kelainan yang terletak di tulang tengkorak. Kelainan tersebut berupa adanya bentuk kepala yang tidak normal. Penyakit ini merupakan salah satu kecacatan yang muncul dari lahir dan dapat semakin buruk tanpa pengobatan yang kurang memadai. Penyakit ini juga memiliki resiko tinggi menimbulkan kelainan pada mata dan psikologis anak di kemudian hari.

Penyakit Craniosynostosis jarang sekali didengar, tetapi kondisi ini banyak ditemukan bayi lahir dengan kondisi cacat bentuk kepala. Terjadinya Craniosynostosis disebabkan oleh gangguan pertumbuhan pada lempeng tulang kepala bayi.

Pada dasarnya tulang kepala bayi merupakan tujuh susunan lempeng yang dibatasi oleh sutura. Tulang tengkorak semakin berkembang seiring bertambahnya usia dan sutura mulai semakin menutup. Sedangkan pada Craniosynostosis, masalah yang timbul adalah dimana lempeng tulang kepala bayi tumbuh lebih cepat sehingga sutura menutup lebih cepat pula, akibatnya perkembangan otak bayi terhambat akibat ukuran tulang kepala tidak proporsional atau terlalu cepat menyatu.

Penyebab Penyakit Craniosynostosis

 Terjadinya penyakit Craniosynostosis pada beberapa kasus bayi lahir cacat dirumah sakit disertai oleh beberapa faktor penyebab antara lain:

  1. Genetik
  2. Nutrisi
  3. Kelainan Endokrin
  4. Kelainan darah

Cacar pada lahir sering dikaitkan oleh kelainan genetik yang berhubungan dengan beberapa sindrom yaitu sindrom apert, sindrom Crouzon, Sindrom Pfeiffer, dan sebagainya. Adanya hubungan terhadap asupan nutrisi seperti hiperkalsemia dan kekurangan vitamin D juga memicu terjadinya Craniosynostosis pada bayi lahir.

Salah satu penyebab yang berkaitan dengan gangguan endokrin yang dapat menimbulkan Craniosynostosis yaitu hipertiroid dan hipofosfatemia. Penyakit gangguan darah yang dapat beresiko menyebabkan Craniosynostosis antara lain thalasemia dan anemia sickle cell.

Craniosynostosis dibagi menjadi 4 jenis yaitu:

  1. Sagittal, Craniosynostosis yang membentuk kepala menjadi memanjang.
  2. Coronal, Craniosynostosis yang membentuk dahi yang tidak proporsional
  3. Metopic, Craniosynostosis yang membentuk dahi segitiga dan kepala membesar
  4. Lambdoid, Craniosynostosis yang membentuk salah satu sisi kepala terlihat lebih datar atau posisi telinga yang lebih tinggi. 

Gejala Craniosynostosis

Gejala yang dapat ditemukan pada Craniosynostosis memperlihatkan kelainan pada tulang kepala. Gejala ini berkaitan dengan perkembangan otak yang terhambat akibat ukuran tulang kepala yang abnormal. Gejala yang ditimbulkan berupa:

  1. Ubun-ubun atas menghilang
  2. Perkembangan kepala bayi terhambat atau tidak sesuai usia
  3. Tekanan intrakranial bayi meningkat, dibuktikan dengan adanya muntah spontan, penglihatan semakin terganggu dan kesadaran menurun
  4. Gangguan pendengaran
  5. Mata bengkak
  6. Lebih suka tidur
  7. Rewel, suka menangis

Komplikasi Craniosynostosis

Komplikasi terberat pada kasus Craniosynostosis adalah bentuk wajah yang tidak normal dan terancam mengalami gangguan psikologis dan kebutaan.

Diagnosis Craniosynostosis

Berbagai cara dilakukan dokter untuk membuktikan adanya Craniosynostosis pada anak. Hal pertama yang dilakukan dokter adalah dengan pemeriksaan fisik dengan menilai status kesadaran dan struktur kepala bayi seperti ukuran kepala dan ubun-ubun bayi. Riwayat penyakit hingga kehamilan juga perlu diketahui dari orang tua mengingat adanya bawaan genetik yang dapat menimbulkan Craniosynostosis.

Setelah pemeriksaan fisik, pemeriksaan pencitraan berupa CT-scan atau MRI penting dilakukan untuk melihat adanya kelainan pada organ otak serta struktur tulang kepala bayi. Kedua pemeriksaan tersebut juga dapat melihat adanya kelainan pada penutupan sutura. Untuk memastikan adanya riwayat genetik, maka perlu dilakukan Tes DNA yang lebih spesifik.

Penanganan Pada Craniosynostosis

Terapi untuk anak dengan Craniosynostosis harus ditangani dengan dokter bedah spesialis pediatrik. Jenis terapi bedah yang dilakukan disesuaikan dengan derajat penyakit hingga keparahan stuktur kelainan tulang. Karena kondisi ini beresiko meningkatkan tekanan intrakranial, maka operasi bedah kepala perlu dilakukan guna mencegah gejala lebih berat.

Tujuan bedah kepala adalah dengan memberikan ruang bagi otak untuk berkembang dan memperbaiki struktur tulang kepala. HIngga saat ini dokter bedah memiliki dua teknik bedah yaitu dengan bedah terbuka dan Bedah endoskopi.

Bedah endoskopi dilakukan dengan membuat dua sayatan kecil di kepala bayi lalu memasukan endoskop kedalamnya. Terapi ini lebih dipilih karena tindakan operasi yang lebih singkat dan minim pembengkakan dan pendarahan.

Bedah terbuka memiliki panduan yang lebih kompleks, tetapi ini efektif untuk memperbaiki Craniosynostosis derajat berat. Tindakan dan Pemulihan operasi dapat lebih lama dibanding dengan endoskopi.

 


Referensi

Johnson, D. Wilkie, AOM. (2011). Craniosynostosis. European Journal of Human Genetics, 19(4), pp. 369-376.

Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Craniosynostosis.

NHS Choices UK (2017). Health A-Z. Craniosynostosis.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit