Alasan Vape Meningkatkan Risiko Kanker pada Tubuh

Dipublish tanggal: Jun 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Sep 6, 2019 Waktu baca: 2 menit
Alasan Vape Meningkatkan Risiko Kanker pada Tubuh

Sekarang ini, banyak orang yang memiliki kebiasaan merokok mulai beralih untuk menghisap vape. Banyak para perokok beranggapan bahwa kegiatan vape ini tidak seberbahaya kebiasaan merokok untuk kesehatan. 

Namun benarkah itu? Padahal pada kenyataannya, memiliki kebiasaan vape ini bisa meningkatkan risiko kanker pada tubuh. Berikut ini beberapa alasannya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Memiliki Kandungan Kimia yang Berbahaya

Alasan pertama yang menyebabkan vape dapat meningkatkan risiko kanker pada tubuh tidak lepas dari berbagai kandungan kimia berbahaya di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa selama ini masih banyak yang beranggapan bahwa menghisap vape lebih sehat daripada menghisap rokok. Selain itu, banyak yang beranggapan bahwa vape ini tidak berbahaya.

Anggapan tersebut tidak bisa dilepaskan dari banyaknya promo maupun opini bahwa kandungan yang dimiliki vape tergolong tidak bahaya dan masih aman dibandingkan kandungan dari rokok. 

Namun pada kenyataannya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bagi Anda yang belum tahu bahwa, ternyata kandungan yang dimiliki oleh vape sama sekali tidak bisa diremehkan.

Kandungan tersebut mulai dari formalin, aldehida, dietilen glikol hingga acroelin terdapat di dalamnya. Perlu diketahui bahwa kandungan-kandungan tersebut diketahui dapat memicu penyakit kanker pada seseorang. 

Apalagi kandungan-kandungan yang sudah disebutkan barusan ternyata terdapat tepat pada asap yang dihasilkan dari kegiatan vape yang dianggap masih sehat.

Semakin Sering Dipakai Maka Semakin Tinggi Risikonya

Apabila mengingat berbagai bahan kimia yang dimiliki oleh vape ini maka sudah dapat dipastikan bahwa risiko terjadinya kanker selalu ada. Apalagi kalau intensitas pemakaian vape ini terus ditingkatkan maka sudah dapat dipastikan risiko terjadinya kanker semakin tinggi. Hal tersebut tidak lepas karena semakin panas vape ini digunakan maka akan semakin berbahaya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Soalnya semakin panas dari vape ketika digunakan maka semakin tinggi bahan kimia yang diserap oleh tubuh. Terutama bahan-bahan kimia seperti formalin hingga akroelin. 

Penyebabnya adalah karena vape yang tingkatnya terus memanas karena waktu pemakaiannya semakin lama. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa risiko dari terkena penyakit kanker juga semakin tinggi.

Bebas Nikotin Tidak Menjadi Jaminan

Selama ini masih banyak yang beranggapan maupun mengklaim bahwa vape bebas dari kandungan nikotin jadi aman untuk kesehatan. Namun pada kenyataannya, bebas dari nikotin sama sekali tidak menjadi jaminan bahwa kebiasaan vape aman untuk kesehatan. 

Hal tersebut tidak lepas karena nyatanya di dalam vape terdapat racun kimia yang berbahaya untuk kesehatan.

Perlu diketahui bahwa racun kimia tersebut dapat mempengaruhi sel-sel di dalam tubuh. Mulai dari mengalami cidera sel hingga kematian terhadap sel. Kondisi ini pastinya akan sangat merugikan dari tubuh Anda sendiri.

Vape Masih Belum Ada Aturan Resmi   

Alasan yang terakhirnya adalah karena vape ini masih belum aturan resmi dan jelas yang bisa dijadikan pegangan. Terutama dari Pemerintah RI tentang aturan maupun kandungan pasti yang dimiliki oleh vape ini. 

Kondisi tersebutlah yang kemudian membuat banyak produsen dari vape ini bebas sesuka hati mencampurkan berbagai bahan ke dalam vape tersebut.

Hal inilah yang sangat memungkinkan untuk meningkatkan risiko terjadinya kanker pada seseorang yang menggunakan vape. Walau tidak bisa dipungkiri juga bahawa kandungan yang dimiliki dari vape ini tidak seberbahaya kandungan yang dimiliki oleh rokok. Tidak heran apabila kemudian banyak pihak yang memilih vape daripada memilih rokok.

Dengan semua penjelasan di atas, semestinya membuat Anda menjadi pribadi yang lebih berhati-hati lagi. Tidak terkecuali dalam melakukan kebiasaan vape ini. Ada baiknya untuk mulai mengurangi kebiasaan vape ini demi kesehatan dari diri Anda sendiri nantinya.

31 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Warner KE. (2018). How to think—not feel—about tobacco harm reduction. DOI: (https://doi.org/10.1093/ntr/nty084)
Volti GL, et al. (2018). Assessment of e-cigarette impact on smokers: The importance of experimental conditions relevant to human consumption. DOI: (https://doi.org/10.1073/pnas.1801967115)
U.S. Food and Drug Administration. (2018). Propylene glycol. (https://www.accessdata.fda.gov/scripts/cdrh/cfdocs/cfcfr/cfrsearch.cfm?fr=184.1666)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app