Ketahui 6 Bahaya Memakai Headset Terus Menerus Bagi Telinga dan Otak

Meski sudah banyak yang mengetahui bahaya penggunaan perangkat keras satu ini bagi kualitas telinga, namun masih banyak yang membandel karena merasa pendengarannya tidak bermasalah. Namun tahukah Anda jika penggunaan jangka panjang akan mempengaruhi otak dan telinga Anda? Berikut ulasannya.
Dipublish tanggal: Jul 7, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Ketahui 6 Bahaya Memakai Headset Terus Menerus Bagi Telinga dan Otak

Mendengarkan musik personal melalui headset sering dipilih terutama ketika berada di tempat umum. Mendengarkan musik langsung dari headset juga sering dipilih orang untuk mengantarnya tidur. 

Meski sudah banyak yang mengetahui bahaya penggunaan perangkat keras satu ini bagi kualitas telinga, namun masih banyak yang membandel karena merasa pendengarannya tidak bermasalah. Namun tahukah Anda jika penggunaan jangka panjang akan mempengaruhi otak dan telinga Anda? Berikut ulasannya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

1. Telinga mengalami kerusakan permanen

Mendengarkan musik menggunakan headset lebih dipilih karena tidak akan mengganggu orang di sekitar serta lebih privasi. Namun, mendengarkan musik dengan volume yang keras dan dalam waktu yang lama setiap harinya dapat merusak kemampuan telinga Anda untuk mendengarkan suara. 

Hal ini dikarenakan telinga tidak mampu menanggung beban suara bervolume besar yang langsung masuk ke dalam lubang telinga. Hal ini bahkan dapat dialami oleh mereka yang masih muda.

2. Otak rusak

Tidak hanya telinga yang mengalami kerusakan, namun ternyata efek penggunaan headset dan earphone juga dapat berdampak terhadap kesehatan otak. Gelombang elektromagnetik yang muncul dari headset dan earphone dapat merusak listrik pada otak.

 Hal ini telah dibuktikan melalui serangkaian penelitian bahwa gelombang elektromagnetik yang muncul dapat mempengaruhi aliran listrik pada otak tikus. Meski belum diketahui dengan pasti seberapa tingkat kerusakan yang dialami seseorang, namun sebaiknya Anda tetap mengurangi porsi penggunaan headset dan earphone.

3. Ambang pendengaran

Ambang pendengaran merupakan batas pendengaran yang masih bisa didengar oleh manusia. Ketika Anda terus-menerus mendengarkan headset dan earphone dengan tingkat suara yang keras, maka Anda akan mengalami gangguan terhadap pendengaran Anda ketika tidak mengenakan headset dan earphone. 

Anda mungkin mengalami masalah pada pendengaran seperti tidak mampu mendengarkan suara orang lain yang sedang mengobrol dengan Anda dengan volume normal.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Tingkat suara yang diizinkan untuk didengar oleh orang dewasa ada di antara 25 sampai 40 desibel. Sementara pada anak-anak antara 20 sampai 40 desibel. Tingkat suara yang lebih tinggi yaitu 90 desibel juga masih mampu didengar. 

Namun, Anda tidak dianjurkan untuk mendengarkan tingkat suara lebih dari 100 desibel. Hal ini merupakan anjuran dari para peneliti yang menyarankan agar perangkat suara dibatasi tingkat suara hingga 100 desibel saja.

4. Infeksi pada telinga

Menggunakan perangkat yang sama terus-menerus selama berhari-hari dalam waktu yang lama tentu mengharuskan perawatan khusus terutama dalam hal kebersihan perangkat tersebut. 

Seringkali orang mengabaikan faktor perawatan kebersihan suatu perangkat dan hanya peduli pada kemampuan perangkat untuk terus bekerja. Padahal Anda juga harus mempertimbangkan kesehatan telinga Anda. 

Bantalan telinga headset harus diganti setiap enam bulan sekali serta dibersihkan secara teratur agar bakteri tidak menyebar di telinga.

5. Kehilangan pendengaran di usia muda

Rentang usia yang paling sering menggunakan headset yakni di kisaran remaja hingga usia 20an tahun. Oleh karena itu banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa efek penggunaan headset jangka panjang akan mulai dirasa ketika seseorang menginjak usia 20an tahun. 

Meski efek ini baru akan terasa setelah rutin menggunakan headset bertahun-tahun, namun Anda tentu tidak ingin mengalami masalah pendengaran bukan?

6. Tempat tumbuh kembang bakteri dan kuman

Tahukah Anda bahwa awai seperti smartphone hingga headset justru menjadi tempat tumbuh berkembangnya kuman lebih banyak dibanding dudukan toilet? Hal ini telah dibuktikan oleh seorang peneliti dari Universitas Arizona dimana kuman lebih banyak berkumpul pada tempat seperti smartphone dan headset.

 

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
D.A.A, Mat & Kho, F. & Joseph, A. & Kipli, Kuryati & Sahrani, S. & Lias, K. & Marzuki, Ade syaheda wani. (2010). The effect of headset and earphone on reducing electromagnetic radiation from mobile phone toward human head. 8th Asia-Pacific Symposium on Information and Telecommunication Technologies, APSITT 2010. 1 - 6. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/224162679_The_effect_of_headset_and_earphone_on_reducing_electromagnetic_radiation_from_mobile_phone_toward_human_head)
Do Wireless Bluetooth Headphones Really Increase Cancer Risk?. Health.com. (https://www.health.com/condition/cancer/bluetooth-wireless-headphones-cancer)
Are Bluetooth Headphones Dangerous?. Healthline. (https://www.healthline.com/health-news/are-wireless-headphones-dangerous)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app