Dampak Fisik dan Psikis Saat Anak Mengalami Kekerasan

Dipublish tanggal: Agu 24, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 16, 2020 Waktu baca: 3 menit
Dampak Fisik dan Psikis Saat Anak Mengalami Kekerasan

Segala bentuk penganiayaan dan kekerasan dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Padahal hal tersebut merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan pada anak-anak. Jika hal ini terjadi maka akan menimbulkan banyak dampak negatif yang terjadi pada perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis.

Hingga kini kasus kekerasan masih cukup banyak dialami oleh sebagian besar anak dan sayangnya hanya sedikit kasus yang dilaporkan. Padahal jika kekerasan dan penganiayaan pada anak ini tidak dihentikan maka perkembangan emosi serta tahap perkembangan afektif anak di usia dini juga akan terpengaruh. 

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku

Dampaknya tentu saja bisa menyebabkan trauma berkepanjangan yang membuat anak tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan menyenangkan meskipun telah mendapatkan pertolongan yang tepat. Tak hanya bekas luka fisik yang terpaku di tubuh, tetapi juga luka emosional yang dapat mempengaruhi fungsi kerja otak dan menyebabkan trauma yang akan terus terbawa hingga dewasa dan mempengaruhi kehidupan di masa depan. 

Dampak Fisik dan Psikis Saat Anak Mengalami Kekerasan

Nah berikut ini adalah dampak yang mungkin akan dirasakan anak, baik dampak fisik maupun psikis saat mengalami kekerasan:

Luka, cacat fisik atau kematian

Mungkin luka fisik dapat menjadi dampak yang paling utama timbul saat anak mengalami kekerasan. Tanda-tanda kekerasan fisik yang dapat terlihat mulai dari adanya bengkak, memar, patah tulang, pendarahan dalam, luka bakar di berbagai area tubuh.

Biasanya kondisi ini akan ditutupi dan hampir pasti jika anak korban kekerasan tidak akan mau memberitahukan kepada orang lain mengenai kondisi dirinya yang sebenarnya karena adanya tekanan dan ketakutan yang dapat menyebabkan ancaman kekerasan akan semakin bertambah buruk. Jika dilakukan secara terus menerus, bukan tidak mungkin anak akan mengalami cacat fisik hingga kematian.

Sulit tidur

Tekanan pada pikiran yang anak rasakan juga dapat berlanjut dan mempengaruhi pola tidurnya sehingga anak bisa mengalami kesulitan untuk tidur bahkan hingga sering bermimpi buruk. Jika anak sering bermimpi buruk tanpa ada alasan yang jelas, maka sebagai orang tua harus waspada bisa jadi anak mengalami kekerasan yang tidak Anda ketahui.

Mempunyai kebiasaan buruk

Stress yang dialami sedari kecil akibat kondisi penganiayaan dan kekerasan fisik bisa membawa anak memiliki kebiasaan yang buruk di perkembangannya kelak. Hal ini dapat menjadi salah satu akibat dari peralihan stress yang dirasakan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES CELERY 7000 via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores celery 7000 120 1

Berbagai kebiasaan kurang baik bisa saja terjadi, mulai dari merokok, ketergantungan alkohol dan obat-obatan terlarang, pergaulan yang buruk, seks bebas, dan kebiasaan buruk lainnya yang dilakukan bahkan semenjak usia remaja.

Membentuk mental sebagai korban

Anak-anak yang menjadi korban kekerasan umumnya mengalami hal ini sejak kecil yang membuat mentalnya sebagai korban terlanjur sudah terbentuk secara tidak langsung dalam bawah sadarnya. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka mereka akan berpikir jika memang dirinya pantas untuk dijadikan korban padahal seharusnya mereka memiliki hak yang sama dengan orang lain atas kehidupannya sendiri.

Melakukan kekerasan

Sebagai bentuk dari balas dendamnya, tak jarang anak korban kekerasan akan balik berubah menjadi pelaku penganiayaan dan kekerasan fisik itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kasus perilaku bullying yang biasanya dilakukan oleh orang yang sebelumnya pernah menjadi korban bully.

Kepercayaan diri rendah

Kepercayaan diri pada anak korban penganiayaan dan kekerasan juga akan menurun. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya rasa takut yang berlebihan saat akan melakukan hal yang salah dan menyebabkan dirinya mendapatkan kekerasan lagi. Kondisi ini tentunya juga bisa menyebabkan perkembangan anak menjadi terhambat.

Mengalami trauma

Sudah pasti anak yang mengalami kekerasan mulai dari kecil akan mengalami trauma dan berdampak pada kehidupan selanjutnya yang tentu sangat besar, mulai dari stress, depresi, hingga gangguan psikologis lainnya yang mempengaruhi kehidupan sosial sehari-hari.

Menyakiti diri sendiri

Dampak yang paling ekstrim yang bisa dialami oleh anak yang mengalami penganiayaan dan kekerasan adalah memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan hingga bunuh diri. Ketidakmampuan mereka untuk membela diri maupun mencari pertolongan lama-kelamaan akan menggiring anak pada kondisi di mana dirinya hanya sanggup untuk menyakiti diri sendiri karena merasa lemah dan putus asa.

Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa dampak kekerasan pada anak sebenarnya tak hanya disebabkan karena kekerasan fisik saja, namun juga kekerasan emosional. Keduanya sama-sama memiliki dampak buruk yang dapat berpengaruh bagi perkembangan fisik dan emosional anak. 

Jika tidak ditangani dengan serius, tentunya anak akan tumbuh menjadi seseorang yang memiliki masalah dengan perilakunya. Karena itu peran orang tua sangatlah penting agar bisa selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk selalu terbuka.

13 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
What is child abuse and neglect? Recognizing the signs and symptoms [Factsheet]. (2013). (https://www.childwelfare.gov/pubPDFs/whatiscan.pdf)
National child abuse and neglect data system glossary. (2000). (http://www.acf.hhs.gov/programs/cb/systems/ncands/ncands98/glossary/glossary.htm)
Morton PM, et al. (2012). Does childhood misfortune increase cancer risk in adulthood? (http://jah.sagepub.com/content/24/6/948.abstract)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app