Kenali ​Spinal Stenosis dan Cara Menanganinya

Update terakhir: Mar 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 1.062.187 orang

Spinal Stenosis

Spinal stenosis adalah suatu kelainan saraf yang terjadi pada tulang belakang. Penyakit ini disebabkan oleh tekanan saraf tulang belakang yang menimbulkan gangguan pada sistem persarafan di sekitar tubuh. Tekanan yang disebabkan oleh kelaianan pada tulang belakang menimbulkan gejala berupa nyeri yang paling sering terjadi pada tulang pinggang dan leher.

Tulang belakang terdiri beberapa bagian mulai dari tulang leher (servikal), tulang torakal, tulang punggung (lumbar), dan tulang sakrum. Stenosis pada saraf paling sering terjadi di tulang punggung dan tulang leher karena aktivitas tulang belakang di bagian tersebut lebih membutuhkan banyak aktivitas dalam menggerakan tubuh seperti menahan postur kepala.

Tulang belakang juga memiliki tulang-tulang kecil yang berfungsi untuk melindungi saraf spinalis dan menjadi jalur keluarnya cabang-cabang saraf ke sekitar tubuh. Kondisi yang menimbulkan spinal stenosis rata-rata terjadi pada kelainan tulang belakang itu sendiri. Penyebab yang dapat terjadi antara lain:

  1. Herniasi diskus
  2. Tumor
  3. Pertumbuhan tulang
  4. Trauma

Di antara kedua tulang belakang terdapat diskus yang berupa bantalan halus untuk menjaga kelenturan tulang belakang. Rusaknya diskus akibat cedera atau penuaan dapat mengeluarkan cairan yang dapat menekan korda spinalis dan saraf sekitar. Adanya pertumbuhan sel tumor baik di tulang atau di daerah persarafan dapat beresiko menimbulkan tekanan pada saraf sehingga menimbulkan gejala.

Adanya kelainan pertumbuhan tulang belakang dapat menyebabkan tertekannya saraf-saraf sekitar. Trauma yang menyerang tulang belakang akibat kecelakaan atau tertabrak mobil dapat menyebabkan tulang belakang menjadi patah atau hancur sehingga menimbulkan kerusakan pada saraf di sekitar tulang belakang.

Resiko terjadinya spinal stenosis meningkat pada usia tua seperti yang diakibatkan dari herniasi diskus invertebralis. Kelainan tulang seperti paget disease dan gangguan sejak lahir juga meningkatkan resiko terjadinya spinal stenosis.

Gejala Spinal Stenosis

Gejala pada spinal stenosis terjadi akibat penyebab di atas. Penekanan hingga kerusakan saraf dapat dirasakan langsung di daerah saraf yang terkena atau dapat menjalain ke bagian tubuh sekitar jalur saraf. Gejala yang timbul pada spinal stenosis antara lain:

  1. Nyeri
  2. Kelemahan otot
  3. Gangguan keseimbangan
  4. Mati rasa
  5. Kram otot

Nyeri pada bagain tubuh disesuaikan dari letak penekanan saraf. Spinal stenosis yang menyerang tulang torakal atau lumbar dapat menimbulkan rasa nyeri di sekitar kaki ketika berjalan dan mereda bila istirahat. Spinal stenosis yang terjadi pada tulang leher menimbulkan rasa nyeri ketika menggerakan kepala.

Gangguan pada saraf akibat penekanan secara patologis menimbulkan kelemahan pada otot yang menimbulkan hilangnya kontraksi otot saat beraktivitas. Kelemahan otot paling sering dirasakan di pergelangan tangan akibat stenosis tulang servikal dan di kaki akibat stenosis tulang lumbal. Kelainan pada saraf dan lemah fungsi otot menimbulkan tergangguanya keseimbangan pada saat berdiri.

Diagnosis Spinal Stenosis

Diagnosis spinal stenosis sangat penting dilihat dari usia dan danya riwayat penyakit atau trauma. Ini menjadi faktor resiko penitng dari terjadinya spinal stensosis. Memastikan adanya kelainan tulang belakang perlu dilakukan pemeriksaan penunjang lain. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain:

  1. X-ray
  2. CT-scan
  3. MRI
  1. Foto rontgen normal dapat menentukan adanya faktur tulang atau kelainan tulang lain yang menimbulkan penekanan saraf.
  2. Pemeriksaan dengan CT-scan dapat mendeteksi letak penekanan saraf dari tulang belakang dari sudut yang berbeda.
  3. Pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging mmberikan gambaran yang detil kelainaan tulang belakang seperti herniasi diskus dan munculnya sel tumor.

Penanganan Spinal Stenosis

Pemeriksaan penunjang menentukan terapi piihan yang diberikan oleh dokter. Beberapa obat-obatan juga dapat membantu meringankan gejala nyeri dan gangguan otot. Obat-obatan yang sering digunakan antara lain

  1. Anti nyeri
  2. Anti kejang
  3. Injeksi steroid
  1. Obat anti nyeri seperti ibuprofen dan naproxen dapat mengurangi rasa nyeri secara sementara
  2. Obat anti keajng membantu mengurangi nyeri akibat penekanan saraf. Obat yang sering digunakan antara lain gabapentin dan pregabalin.
  3. Obat steroid injeki berguna untuk mengurangi peradangan pada jalur saraf. Dokter memberikan suntikan kortikosteroid dengan dosis yang sesuai untuk mengurangi rasa nyeri.

Operasi yang bisa dilakukan

Operasi menjadi pilihan terakhir apabila gejala tidak mereda dengan obat atau adanya cedera kronis yang membutuhkan operasi segera dengan memperbaiki kerusakan tulang dan mengembali fungsi saraf. Operasi yang dilakukan antara lain dekompresi, laminektomi, dan laminoplasti. 

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit